BAGI YANG BERMINAT ATAU MEMBUTUHKAN SKRIPSI YANG COCOK DENGAN YANG ANDA CRI SILAHKAN POSKAN PESANAN ANDA LEWAT SINI. KAMI MELAYANI SECARA ONLINE ATAU LANGSUNG DATANG SENDIRI KE "CAHAYA.COMP" ALAMAT KANTOR SUMBERBENDO JOGOROTO JOMBANG. 085649-615-631 /0321-698-2119 EMAIL CAHAYA.COMP@YAHOO.CO.ID

Rabu, 25 November 2009

Studi Tentang Pengaruh Kedisiplinan Siswa di Bidang Bahasa Arab terhadap Peningkatan Kemampuan Berbahasa Arab di MTs. Nurul Qur’an Bendungrejo Jogorot

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Individu manusia lahir tanpa memiliki pengetahuan apapun, tetapi ia telah dilengkapi dengan fitrah yang memungkinkannya untuk menguasai berbagai pengetahuan dan peradaban. Dengan memfungsikan fitrah itulah ia belajar dari lingkungan dan masyarakat orang dewasa yang mendirikan institusi pendidikan. Kondisi awal individu dan proses pendidikannya tersebut diisyaratkan oleh Allah di dalam firman Nya surat An-Nahl ayat 78 sebagai berikut :
    •             

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”  

Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang universal di dalam kehidupan manusia. Dimanapun dan kapanpun di dunia ini terdapat pendidikan. Pendidikan merupakan kegiatan manusia untuk memanusiakan manusia sendiri, yaitu agar manusia berbudaya. Meskipun pendidikan merupakan gejala yang universal atau 
umum dalam kehidupan masyarakat, namun perbedaan pandangan hidup atau filsafat yang dianut oleh masing-masing bangsa atau masyarakat bahkan individu menyebabkan adanya perbedaan di dalam menyelenggarakan kegiatan pendidikan tersebut. Dengan demikian selain bersifat universal, pendidikan juga bersifat nasional bahkan dapat pula bersifat individual. Pendidikan merupakan perbuatan atau tindakan yang diarahkan kepada manusia agar potensi-potensi yang dimiliki dapat dikembangkan secara nyata.
Dengan demikian, tujuan nasional suatu pendidikan sangat dipengaruhi oleh falsafah atau pandangan hidup yang dianut oleh suatu bangsa. Juga halnya dengan pendidikan di negara Indonesia mempunyai tujuan pendidikan nasional sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 yang berbunyi:
“Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,sehat,berilmu,cakap,kreatif,mandiri,dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. 
Agar tujuan pendidikan nasional ini tercapai, maka harus didirikan institusi-institusi pendidikan (Perguruan Tinggi, Akademi, Sekolah). Diadakannya setiap bagian itu, misalnya institusi-institusi, tentulah mempunyai tujuan. Meskipun tujuan dari setiap institusi itu tidak sama, tetapi tetap tidak keluar dari tujuan yang pokok ialah mendukung tujuan pendidikan nasional. Tujuan Institusional adalah tujuan pendidikan yang hendak dicapai melalui tingkat dan jenis pendidikan tertentu. 
Suatu institusi misalkan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) memiliki tujuan institusional yang harus dicapai. Oleh karena itu sesuai dengan namanya institusi pendidikan, institusi itu menyediakan sejumlah bidang studi yang ditawarkan kepada pelajar untuk dikuasainya. Tujuan yang harus dicapai pada bidang studi itu disebut tujuan kurikuler. Karena setiap bidang itu luas, maka bidang-bidang studi itu dibagi-bagi kedalam pokok bahasan-pokok bahasan (topik-topik) yang diajarkan yang tujuan mengajarkannya disebut tujuan intruksional.
Bahasa Arab yang merupakan salah satu bidang studi yang diajarkan di institusi-institusi juga mempunyai tujuan-tujuan tertentu. Agar tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai seoptimal mungkin sesuai yang diharapkan, maka dalam mengajarkannya diperlukan suatu strategi yang baik dalam mengajarkannya. Disamping itu yang tak kalah pentingnya adalah dibutuhkan disiplin belajar yang tinggi dari setiap siswa sebagai modal utama agar keberhasilan penyampaian materi dapat diserap dengan baik. 
Keberhasilan kegiatan belajar mengajar semata-mata tidak hanya dapat dibebankan kepada guru semata, akan tetapi kepada semua komponen yang saling 
mendukung baik kepala sekolah, guru terlebih-lebih adalah siswa sebagai obyek sekaligus subyek dari pelaksanaan transformasi pengetahuan.
Dengan adanya perubahan sistem belajar mengajar, tentunya siswa dituntut untuk belajar lebih aktif, efektif dan efisien baik belajar secara individu maupun belajar secara kelompok. Agar dalam belajar itu lebih efektif dan efisien, maka siswa perlu aturan-aturan atau tata tertib sebagai pedoman dalam belajar, baik tata tertib yang dibuat oleh sekolah atau tata tertib yang dibuat sendiri sebagai aturan di rumah.
Jadi pada dasarnya kedisiplinan itu merupakan faktor yang sangat penting dalam kehidupan, begitu juga dalam pendidikan dan pembelajaran . Karena anak yang mempunyai IQ ( kemampuan berfikir ) yang tinggi mungkin akan mengalami kegagalam dalam mencapai prestasinya disebabkan kurang disiplin dalam belajar. Sebaliknya semakin tinggi kedisiplinan yang diberikan kepada siswa semakin berhasil pula prestasinya.
Dari hal-hal dan fenomena tersebut diatas, maka mendorong penulis untuk meneliti bagaimana pengaruh kedisiplinan siswa di bidang Bahasa Arab terhadap kemampuan berbahasa Arab dengan mengambil judul penelitian :
“Studi Tentang Pengaruh Kedisiplinan Siswa di Bidang Bahasa Arab terhadap Peningkatan Kemampuan Berbahasa Arab di MTs. Nurul Qur’an Bendungrejo Jogoroto Jombang”.
B. Rumusan Masalah 
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka masalah yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Apakah ada pengaruh kedisiplinan belajar siswa terhadap peningkatan kemampuan berbahasa Arab pada siswa MTs Nurul Qur’an Bendungrejo Jogoroto Jombang ?
2. Jika ada, sejauh mana pengaruh yang ditimbulkan oleh kedisiplinan belajar siswa di bidang bahasa Arab terhadap kemampuan berbahasa Arab ?
C. Asumsi dan Batasan Masalah 
1. Asumsi-asumsi
Dalam penelitian ini berpijak pada anggapan dasar sebagai berikut :
a. Setiap siswa mempunyai kemauan yang berbeda dalam melaksanakan kedisiplinan belajar dalam meningkatkan kemampuan berbahasa Arab..
b. Kemampuan berbahasa Arab yang dimiliki oleh masing-masing siswa adalah mencerminkan kedisiplinan belajar yang sesungguhnya khususnya di bidang Bahasa Arab..
c. Faktor-faktor diluar yang mempengaruhi kemampuan berbahasa Arab selain kedisiplinan belajar diabaikan.

2. Batasan Masalah :
Untuk lebih fokusnya penelitian ini, maka perlu diberikan batasan masalah sebagai berikut : 
1. Kedisiplinan Belajar Siswa di bidang bahasa Arab dibatasi pada ketaatan siswa dalam mengikuti pembelajaran di bidang bahasa Arab.
2. Kemampuan Berbahasa Arab dibatasi pada kemampuan siswa dalam penggunaan bahasa Arab dalam berbicara setiap hari.

D. Penegasan Judul
Agar tidak terjadi perbedaan penafsiran dalam menanggapi permasalahan ini, maka dipandang perlu untuk mengemukakan secara ringkas beberapa istilah yang dipakai dalam judul penelitian ini :
STUDI : penelitian ilmiah; kajian ; telaahan. 
TENTANG : hal; perihal; mengenai. 
PENGARUH : daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang. 
KEDISIPLINAN : berasal dari kata “disiplin” yang berarti ketaatan (kepatuhan) pada peraturan (tata tertib dan sebagainya) lalu mendapat awalan “ke-“ dan akhiran “-an”, sehingga menjadi kedisiplinan. 
SISWA : murid. 
BIDANG : segi pandangan, aspek, 
BAHASA ARAB : bahasa yang digunakan oleh bangsa Arab. 
TERHADAP : kata depan untuk menandai arah; kepada; lawan. 
KEMAMPUAN : berasal dari kata “mampu” yang berarti kuasa (bisa, sanggup) melakukan sesuatu, yang selanjutnya kata mampu mendapat awalan “ke-“ dan akhiran “-an” yang artinya kesanggupan atau kecakapan. 
BERBAHASA : memakai (menggunakan bahasa). 
ARAB : nama bangsa Arab di Jazirah Arab dan Timur Tengah. 
Jadi yang dimaksud dengan judul tersebut di atas adalah ketaatan belajar siswa di bidang bahasa Arab terhadap peningkatan kemampuan berbahasa Arab di MTs. Nurul Qur’an Bendungrejo Jogoroto Jombang.
E. Tujuan Penelitian 
Adapun tujuan yang diinginkan dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk membuktikan ada tidaknya pengaruh Kedisiplinan Belajar siswa terhadap kemampuan berbahasa Arab di MTs Nurul Qur’an Bendungrejo Jogoroto Jombang.
2. Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh kedisiplinan belajar siswa terhadap kemampuan berbahasa Arab di MTs. Nurul Qur’an Bendungrejo Jogoroto Jombang.
F. Manfaat Penelitian
Suatu penelitian tentunya mempunyai manfaat yang merupakan hasil guna dari kegiatan penelitian yang dilaksanakan. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat :
1. Dapat memberikan masukan kepada institusi yang diteliti yaitu MTs. Nurul Qur’an Bendungrejo Jogoroto Jombang dalam kaitannya dengan kegiatan belajar mengajar (KBM).
2. Menambah luasnya khazanah ilmu pengetahuan bagi para pendidik baik didalam maupun diluar lingkungan sekolah dan perguruan tinggi, sehingga akan lebih mengetahui keadaan yang sesungguhnya terjadi dalam pendidikan dan masyarakat.
3. Dapat dijadikan sebagai pelengkap, bahan pertimbangan, dan referensi perpustakaan di STAI Taswirul Afkar Surabaya bagi peneliti-peneliti lain.

G. Hipotesis Penelitian
Sebelum sampai pada penerapan hipotesa, maka peneliti kemukakan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan hipotesa. Menurut pendapat Netra “Hipotesa berarti suatu pernyataan yang belum sepenuhnya diakui kebenarannya”. Kebenaran dari pendapat dalam hipotesa perlu diuji kebenarannya memalui bukti-bukti secara empiris, yakni melalui data-data atau fakta dilapangan.
Dalam penelitian ini, penulis mengajukan hipotesis sebagai berikut : 
1. Hipotesis Alternatif (Ha)
Hipotesis Alternatif ini biasa disebut dengan hipotesis kerja yang menyatakan adanya hubungan antara variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). Dengan demikian hipotesis alternatif dalam penelitian ini menyatakan :
“ Ada pengaruh kedisiplinan belajar siswa di bidang bahasa Arab terhadap peningkatan kemampuan berbahasa Arab di MTs. Nurul Qur’an Bendungrejo Jogoroto Jombang.
2. Hipotesis Nol (Ho)
Hipotesis Nol sering disebut dengan Hipotesis Statistik, karena biasanya dipakai dalam penelitian yang bersifat statistik. Hipotesis Nol menyatakan tidak adanya hubungan antara variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). dengan demikian hipotesis nol dalam peneltian ini menyatakan :
“Tidak adanya pengaruh kedisiplinan belajar siswa di bidnag bahasa Arab terhadap peningkatan kemampuan berbahasa Arab di MTs. Nurul Qur’an Bendungrejo Jogoroto Jombang.


H. Methodologi Penelitian
 1. Populasi Penelitian
Pelaksanaan penelitian selalu berhubungan dengan obyek yang diteliti baik berupa manusia, benda, peristiwa, maupun gejala yang terjadi. Langkah awal yang harus diperhatikan apabila mengadakan penelitian adalah menentukan dahulu obyek penelitian yang didalamnya meliputi pola lokasi atau tempat dilaksanakannya penelitian.
Menurut Dr.Suharsimi Arikunto dalam bukunya Prosedur Penelitian suatu pendekatan praktek, mengatakan bahwa Populasi adalah “keseluruan subyek dalam penelitian”. 
Sedangkan menurut Sukandarrumidi Populasi adalah : “ keseluruan obyek penelitian baik terdiri dari benda yang nyata, abstrak, peristiwa atau gejala yang merupakan sumber data dan memiliki karakter tertentu dan sama” 
Populasi berdasarkan atas variasi unsur pembentuk sumber data terbagi menjadi 2 yaitu :
a. Populasi bersifat homogen : yaitu populasi dimana sumber datanya yang unsur-unsur pembentuknya memiliki sifat-sifat yang sama.
b. Populasi bersifat heterogen : yaitu populasi dimana pembentuk sumber data yang unsur-unsurnya memiliki sifat-sifat atau keadaan yang bervariasi sehingga perlu ditetapkan lebih lanjut batas-batasnya secara kualitatif maupun kuantitatif 
Penilitian yang penulis lakukan ini, mengambil lokasi di Madrasah Tsanawiyah Nurul Qur’an Bendungrejo Jogoroto Jombang. Hal ini dilakukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :
a. Peneliti telah kenal dengan sebagian guru maupun staf MTs Nurul Qur’an Bendungrejo Jogoroto Jombang sehingga mudah untuk melakukan orientasi dan penyesuaian yang berkenaan dengan penelitian.
b. Jarak antara rumah peneliti dengan lokasi MTs. Nurul Qur’an Bendungrejo lebih dekat bila dibandingkan dengan MTs-MTs lainnya sehingga memudahkan transportasi, efisiensi waktu, biaya serta tenaga.
Dari pertimbangan-pertimbangan diatas maka peneliti beranggapan bahwa proses penelitian yang dilakukan di MTs Nurul Qur’an Bendungrejo Jogoroto Jombang tersebut dapat memperlancar kegiatan yang direncanakan.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa MTs. Nurul Qur’an Bendungrejo Jogoroto Jombang yang berjumlah 300 siswa dengan rincian sebagai berikut : 



REKAPITULASI JUMLAH SISWA 
MTS. NURUL QUR’AN
Bendungrejo Jogoroto Jombang
Tahun Pelajaran 2004 / 2005
NO KELAS JUMLAH SISWA 
1 KELAS I A 49
2 KELAS 1 B 49
3 KELAS I C 51
4 KELAS II A 39
5 KELAS II B 40
6 KELAS III A 36
7 KELAS III B 36
JUMLAH 300

( Sumber data : bagian Tata Usaha MTs. Nurul Qur’an)
2. Sampel Penelitian
Yang dimaksud dengan sampel menurut Prof. Dr. Suharsimi Arikunto adalah “sebagian atau wakil populasi yang diteliti”. Dinamakan penelitian sampel apabila kita bermaksud untuk menggeneralisasikan hasil penelitian sampel.
Yang dimaksud dengan menggeneralisasikan adalah mengangkat kesimpulan penelitian sebagai suatu yang berlaku bagi populasi.
Sifat-sifat yang harus dimiliki oleh sampel adalah :
1. Mempunyai sifat yang dimiliki oleh populasi.
2. Mewakili dari populasi.
3. Dapat dipergunakan untuk menggeneralisasi hasil analisis. 
Dalam menentukan besarnya sampel tidak ada ketentuan yang baku, tetapi untuk sekadar ancer-ancer, maka apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya, jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10 – 15 % atau 20 – 25 % atau lebih, tergantung setidak-tidaknya dari :
a. Kemampuan peneliti dilihat dari waktu, tenaga dan dana.
b. Sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subjek, karena hal ini menyangkut banyak sedikitnya data.
c. Besar kecilnya risiko yang ditanggung oleh peneliti. Untuk penelitian yang risikonya besar, tentu saja jika sampel besar, hasilnya akan lebih baik. 
Mengingat besarnya jumlah siswa MTs. Nurul Qur'an Bendungrejo Jogoroto Jombang serta adanya keterbatasan waktu, biaya serta tenaga, maka peneliti tidak akan meneliti seluruh populasi yang ada, tetapi mengambil sebagian dari populasi, yaitu 25 % dari populasi yang berjumlah 300 siswa, sehingga sampel yang didapatkan adalah 75 siswa.
3. Prosedur Tehnik Sampling
Untuk mempermudah dan memperjelas dalam memperoleh sampel yang sifat dan cici-cirinya mendekati populasi, maka diperlukan teknik dalam pengambilan sampel yang dapat mewakili populasi. Hal ini disebut teknik sampling. Pengambilan sampel ini harus dilakukan sedemikian rupa sehingga diperoleh sampel (contoh) yang dapat menggambarkan keadaan populasi yang sebenarnya. Adapun dalam pengambilan sampel, peneliti menggunakan teknik sampling random sampling, sampel acak atau sampel campur.
Teknik sampling ini diberi nama demikian karena di dalam pengambilan sampelnya, peneliti “mencampur” subyek-subyek di dalam populasi sehingga semua subyek dianggap sama. Dengan demikian maka peneliti memberi hak yang sama kepada setiap subyek untuk memperoleh kesempatan (chance) dipilih menjadi sampel. Oleh karena hak setiap subjek sama, maka penelitian terlepas dari perasaan ingin mengistimewakan satu atau beberapa subjek untuk dijadikan sampel. 
4. Variabel Penelitian dan Indikator
Variabel adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. 
Berdasarkan pada teori dan model hipotesis yang peneliti ajukan, maka variabel penelitian dan definisi operasionalnya adalah sebagai berikut :
Variabel X : Variabel bebas (Independent variabel) yaitu kedisiplinan belajar siswa di bidang bahasa Arab yang didefinisikan sebagai tingkat kepatuhan atau ketaatan siswa didalam mengikuti dan menyelesaikan tugas-tugas dalam proses belajar Bahasa Arab dan segala peraturan-peraturan di sekolah.
Varibael Y : Variabel terikat (Dependent variabel) yaitu kemampuan berbahasa Arab yang didefinisikan sebagai kesanggupan atau kecakapan menggunakan bahasa Arab sebagai alat komunikasi baik lisan maupun tulis yang meliputi : menyimak/mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis, baik bersifat reseptif maupun produktif.
Didalam instrumen ini akan dijabarkan variabel-variabel penelitian, sub variabel, Indikator, sumber data dan metode pengumpulan data, hal ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Konsep Variabel Indikator Sumber Data Metode
Pengaruh kedisiplinan siswa di bidang bahasa Arab terhadap peningkatan kemampuan berbahasa Arab Kedisiplinan siswa 













Peningkatan kemampuan berbahasa Arab - Presensi siswa
- Jam hadir siswa
- Penyelesaian tugas
- Perpustakaan


- Presensi kegiatan siswa 



- Presensi BP


- Kegiatan belajar di rumah

- Kecakapan siswa dalam menjawab pertanyaan bahasa Arab di kelas
- Siswa dapat memperagakan dialog berbahasa Arab di kelas
- Siswa dapat mengikuti percakapan bahasa Arab ketika guru mengajarkan materi muhadatsah secara langsung berbahasa Arab
- Siswa dapat mengucapkan bahasa Arab dengan lahjah (aksen) Arab
- Metode yang dipakai pengajar dapat dipahami oleh siswa sehingga menambah kecakapannya dalam berbahasa Arab
- Siswa menggunakan bahasa Arab di setiap hari
- Siswa berbahasa Arab bersama teman di ruang kelas
- Siswa berbahasa Arab dengan guru ketika di ruang kelas
- Semenjak mengenal bahasa Arab di sekolah kemampuan siswa dalam muhadatsah baik
- Banyak kosa kata Arab yang telah dikuasai oleh siswa 
 Buku absen
Jurnal
Daftar nilai guru
Buku absen peminjaman buku perpus.
Jurnal kegiatan ekstrakurikuler


Buku pelanggaran tata tertib

Siswa 

Siswa Angket














Angket
 

5. Methode Pengumpulan Data
Data adalah hasil pencatatan penelitian, baik yang berupa fakta ataupun angka. Dari sumber SK Menteri P dan K No.0259/V/1977 tanggal 11 Juli 1977 yang disebutkan bahwa “ Data adalah segala fakta dan angka yang dapat dijadikan bahan untuk menyusun suatu informasi, sedangkan informasi adalah hasil pengolahan data yang dipakai untuk suatu keperluan. Dalam melakukan penelitian peneliti mencari beberapa data yang diperlukan untuk menjawab dengan tepat terhadap hipotesa yang disajikan. Agar semua kebutuhan data-data dalam penelitian ini terpenuhi, maka peneliti perlu memilih alat atau metode yang tepat. Sehingga data yang diperoleh dapat diungkapkan secara tepat dan menyeluruh dalam arti kualitas dan kuantitasnya serta sesuai dengan apa yang diharapkan.
Dari setiap metode pasti terdapat kelebihan dan kekurangannya, oleh karena itu dalam usaha pengumpulan data, peneliti tidak hanya menggunakan satu metode saja. Hal ini dimaksudkan agar data yang diperoleh dapat dipergunakan untuk menguji hipotesa dan dapat menunjang tercapainya tujuan penelitian.
Dalam usaha pengumpulan data pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode sebagai berikut :
a. Riset Kepustakaan (Library Research)
Riset ini bertujuan untuk mendapatkan dasar - dasar teoritis mengenai hal-hal yang akan diteliti dengan membaca literature, peraturan-peraturan, dan bacaan lain yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti.

b. Metode Observasi
Observasi adalah “ pengamatan dan pencatatan sesuatu obyek dengan sistematika fenomena yang diselidiki ”.  
Ciri-ciri observasi adalah :
a. Mempunyai arah yang khusus.
b. Dilakukan dengan suatu sistematika, bukan sesuka hati.
c. Bersifat kwantitatif, mencatat jumlah peristiwa tentang tipe tertentu.
d. Melakukan pencatatan dengan segera, bukan mengandalkan dan menyandarkan diri pada ingatan.
e. Menuntut suatu keahlian, artinya dilakukan oleh seseorang yang memang sudah terlatih untuk melakukan itu.
f. Hasil observasi dapat dicheck dan dibuktikan.
Metode ini digunakan untuk mengamati program kedisiplinan dan dukungan guru terhadap program ini dalam upaya meningkatkan proses belajar mengajar.

Sedangkan data yang diperoleh dari metode observasi ini adalah :
- Keadaan lingkungan sekolah.
- Fasilitas yang menunjang pelaksanaan proses belajar mengajar.
- Kegiatan dalam belajar mengajar.
c. Metode Interview
Yang dimaksud dengan interview atau wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab, sambil bertatap muka antara sipenanya atau pewawancara dengan si penjawab atau responden dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara). 
Dalam interview dapat diketahui ekspresi muka, gerak-gerik tubuh yang dapat dicheck dengan pertanyaan verbal. Dengan interview dapat diketahui tingkat penguasaan materi.
Metode ini kami gunakan untuk memperoleh data tentang :
- Tinjauan historis.
d. Metode Angket
Metode angket atau kuesioner adalah “teknik pengumpulan data dengan cara mengirimkan suatu daftar pertanyaan kepada responden untuk diisi”. Di dalam teknik pengumpulan data dengan kuesioner terdapat asumsi sebagai berikut :
1. Subyek dalam hal ini responden adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri.
2. Apa yang dinyatakan oleh subyek adalah benar dan dapat dipercaya,
3. Interpretasi subyek tentang pertanyaan yang diajukan sama dengan yang dimaksudkan oleh penyelidik.
4. Subyek menguasai dan mampu menjawab sendiri masalah yang ditanyakan. 
Metode ini peneliti gunakan untuk memperoleh data tentang tingkat kedisiplinan siswa di bidang bahasa Arab dan data tentang kemampuan berbahasa Arab.


e. Metode Dokumentasi
Tidak kalah penting dari metode-metode lain, adalah metode dokumentasi, yaitu untuk mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, ledger, agenda dan sebagainya .
Dibandingkan dengan metode lain, maka metode ini agak tidak begitu sulit, dalam arti apabila ada kekeliruan sumber datanya masih tetap, belum berubah.
Metode ini sengaja diambil untuk mendapatkan data-data tentang keadaan sekolah tempat mengadakan penelitian.

6. Methode Analisis Data
Untuk menganalisa data yang diperoleh, penulis menggunakan analisa data kuantitatif. Metode analisa data kuantitatif yang diperoleh dari hasil angket dengan menggunakan teknik prosentase.
Adapun rumusannya adalah :
 
dengan pengertian :
P = Prosentase
F = Frekuensi
N = Jumlah individu. 
Dengan menggunakan standard sebagai berikut :
76 % - 100 % = baik
56 % - 75 % = cukup
40 % - 55 % = kurang baik
40 % - ke bawah = tidak baik. 
Untuk menguji hipotesis yang telah dikemukakan di muka dan agar tujuan penelitian dapat tercapai, maka alat analisis yang digunakan adalah Korelasi Chi Kuadrat yang dirumuskan sebagai berikut :
 
Karena fh (frekuensi yang diharapkan) belum diketahui, maka dicari rumus :
 
Atau disingkat : 
 
I. Sistematika Pembahasan
Dalam penulisan laporan penelitian (skripsi) ini, memakai sistem pembahasan yang terdiri dari empat bab, yaitu :
BAB I : PENDAHULUAN
  Dalam bab pendahuluan ini berisikan sub-sub, yaitu latar belakang masalah, rumusan masalah, asumsi dan batasan masalah, penegasan judul, tujuan penelitian, manfaat penelitian, hipotesis penelitian, methodologi penelitian, dan sistematika pembahasan.
BAB II : LANDASAN TEORI 
  Landasan teori ini merupakan acuan teoritis dalam pembahasan skripsi dalam bab ini meliputi : kedisiplinan belajar, pengertian kemampan berbahasa Arab, tujuan pengajaran bahasa Arab, faktor-faktor penunjang dan penghambat pengajaran bahasa Arab.
BAB III : LAPORAN HASIL PENELITIAN
  Dalam bab ini akan diuraikan tentang : penyajian data-data yaitu untuk mengetahui data-data yang diperoleh dari lapangan, dan hasil dari analisa data yaitu untuk mengetahui hasil dari perhitungan data yang diperoleh sebagai bahan penyajian hipothesis, meliputi : gambaran obyek penelitian, penyajian data dan analisis data.
BAB IV : PENUTUP
  Bab ini merupakan bab terakhir yang di dalamnya memuat kesimpulan sebagai jawaban terhadap rumusan masalah dan saran-saran sebagai masukan kepada berbagai pihak yang terkait dengan permasalahan tersebut dan penutup.



Pengaruh Intensitas Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi Terhadap Kreatifitas Belajar Siswa di Madrasah Aliyah Miftahunnajah Karanglo Mojowarno J

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam mempersiapkan lulusan, pendidikan memasuki era glabalisasi yang penuh dengan tantangan dan ketidakpastian. Diperlukan pendidikan yang dirancang berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan. Disamping itu pendidikan sebagai indikator maju atau mundurnya suatu bangsa dipandang sangat penting peranannya dalam pembangunan bangsa dan negara. Pendidikan merupakan kebutuhan pokok yang tidak dapat ditunda serta sangat penting dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas san unggul yang diharapkan dapat memenangkan persaingan global.
Oleh sebab itu manusia tidak bisa lepas dari pendidikan, karena pendidikan adalah alternatif terbaik untuk perubahan sosial dan sebagai sarana pemberdayaan masyarakat untuk menuju kecerdasan kolektif dan mewujudkan budaya kritis dan partisipatorik. Tujuan pendidikan tidak bisa lepas dari tujuan hidup, sebab pendidikan bertujuan untuk memelihara kehidpan manusia. Pendidikan tidak selayaknya dimanfaatkan oleh kepentingan sepihak, yang justru akan membelenggu kreatifitas berfikir dan memunculkan ide-ide baru, disamping itu membuat masyarakat semakin enggan berkecimpung di dunia pendidikan.
Pendidikan merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, oleh karena itu pendidikan memerlukan penanganan yang sangat serius dari pemerintah melalui tujuan pendidikan nasional yang terdapat dalam undang-undang tentang sistem pendidikan nasional , pemerintah berupaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, memilliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Untuk mencapai tujuan tersebut, banyak hal yang saling berkaitan selain komponen-komponen yang memang terdapat dalam sistem pendidikan itu sendiri, salah aatu komponen yang penting untuk mencapai tujuan pendidikan nasional adalah komponen kurikulum, yang dengan sendirinya menuntut dan memasyarakatkan berbagai perbahan pada komponen-komponen pendidikan yang lain.
Kurikulm merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan pendidikan, sekaligus merupakan pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan tingkat sekolah. Kurikulum mendasarkan dan mencerminkan falsafah sebagai pandangan hidup suatu bangsa ke arah mana dan bagaimana bentuk kehidupan suatu bangsa itu kelak. Banyak digambarkan oleh kurikulum sekarang, mulai dari kurikulum taman kanak-kanak, sekolah adasar, sekolah lanjutan, sampai perguruan tinggi. Sering terjadi suatu negara mengalami perubahan pemerintahan, politik pemerintahan itu mempengaruhi pula bidang pendidikan yang secara tidak langsung dan sering mempengaruhi perubahan kurikulum yang berlaku. 
Berkaitan dengan perbahan kurikulm, yang tentunya berkaitan pula dengan perubahan pemerintahan. Oleh sebab itu pemerintah memprogramkan kurikulum baru, yakni Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) sebagai acuan dan pedoman bagi pelaksanaan pendidikan untuk mengembangkan berbagai ranah pendidikan (pengetahuan, ketrampilan dan sikap). Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) diharapkan mampu memecahkan berbagai persoalan khususnya dalam bidang pendidikan.
Namun perubahan kurikulum tidak selamanya menghasilkan sesuatu yag baik, karena kurikulum bersifat hipotesis. Sekalipun demikian, diperlukan usaha-usaha memperbaikinya agar terdapat alat yang dianggap ampuh untuk mendekati atau mencapai harapan tersebut.
Hingga saat ini, di Jawa Timur khususnya sekolah yang menerapkan sistem Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), salah satunya adalah Madrasah Aliyah Miftahunnajah Karanglo Mojowarno Jombang. Untuk itu penulis mencoba menganalisis dan menguraikan secara praktis bagamana Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tersebut dikembangkan dan diterapkan di Madrasah Aliyah Miftahunnajah Karanglo Mojowarno Jombang, dengan judul “Pengaruh Intensitas Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi Terhadap Kreatifitas Belajar Siswa di Madrasah Aliyah Miftahunnajah Karanglo Mojowarno Jombang”.


B. Rumusan Masalah
Berdasarkan judul dan latar belakang di atas, maka peneliti memberikan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di Madrasah Aliyah Miftahunnajah Karanglo Mojowarno Jombang.
2. Bagaimana motivasi belajar siswa di Madrasah Aliyah Miftahunnajah Karanglo Mojowarno Jombang.
3. Apakah ada pengaruh intensitas pelaksanaan KBK terhadap Kreatifitas belajar siswa di Miftahunnajah Karanglo Mojowarno Jombang.

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di Madrasah Aliyah Miftahunnajah Karanglo Mojowarno Jombang.
2. Untuk mengetahui motivasi belajar siswa di Madrasah Aliyah Miftahunnajah Karanglo Mojowarno Jombang.
3. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh intensitas pelaksanaan KBK terhadap Kreatifitas belajar siswa di Miftahunnajah Karanglo Mojowarno Jombang.

D. Kegunaan Penelitian
Dalam penelitian ini, hasil penelitian yang dilakukan dapat digunakan setidak-tidaknya ada dua hal, yaitu :
a. Secara Teoritis
Dalam penelitian ini, setidak-tidaknya bagi peneliti sendiri merupakan pengalaman yang sangat berharga dalam menambah pengetahan, hazanah keilman dan wawasan keilmuan serta mengembangkan penelitian yang lain.
b. Secara Praktis
1. Hasil penelitian ini dharapkan dapat dijadikan sebagai salah satu sumber informasi dan sebagai acan peningkatan atau pengembangan pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di Madrasah Aliyah Miftahunnajah Karanglo Mojowarno Jombang.
2. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumbangan pustaka untuk Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Taswirul Afkar Surabaya.

E. Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul. (Suharsimi Arikunto, 1988 : 67). 
Adapun hipotesis dalam penelitian ini memakai hipotesis minor, antara lain adalah : “ terdapat pengaruh intensitas pelaksanaan KBK terhadap Kreatiffitas belajar siswa di Madrasah Aliyah Miftahunnajah Karanglo Mojowarno Jombang”.



F. Batasan Operasional Variabel
Tema yang menjadi pokok kajian ini adalah : “Pengaruh Intensitas Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi Terhadap Kreatifitas Belajar Siswa di Madrasah Aliyah Miftahunnajah Karanglo Mojowarno Jombang”. Untuk menghindari kesalah fahaman ( salah persepsi ) terhadap judul di atas dan agar pembahasan dapat terfokus sesuai dengan pembahasan, penulis menganggap perlu untuk menyajikan batasan operasional variabel dalam judul di atas, adalah sebagai berikut :
1. Intensitas pelaksanaan KBK yang dimaksud adalah keunggulan, keadaan yang sungguh-aungguh untuk memperoleh efek yang maksimal terutama untuk mencapai hasil yang diinginkan dalam waktu yang singkat, dalam proses penerapan ide, konsep, kebijakan atau inovasi pada seperangkat rencana, pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai oleh siswa dan pemberdayaan sumberdaya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah, yang dapat dilihart dari indikator-indikator, yaitu menekankan pada pencapaian kompetensi, menggunakan pendekatan dan metode berfariasi, menggunakan berbagai sumber belajar, menciptakan pembelajaran yang kondusif.
2. Kreatifitas yang dimaksudkan adalah kemampuan berfikir atau daya cipta seseorang serta dengan menggabungkan unsur-unsur yang ada dalam menghasilkan suatu yang baru atau berbeda dari sebelumnya, baik berupa gagasan atau karya, yang dapat dilihat dari indikator-indikator, yaitu siswa mampu bertanya, siswa mampu mengutarakan sebab dan akibat dari suatu masalah, siswa mampu berimajinasi, siswa mampu membuat ide atau gagasan-gagasan baru, siswa memiliki minat dan kemauan yang luas, dan siswa percaya pada diri sendiri ( mandiri ).

G. Sistematika Pembahasan
Dalam penulisan laporan penelitian (skripsi) ini, memakai sistem pembahasan yang terdiri dari lima bab, yaitu :
BAB I : Pendahuluan
  Dalam bab pendahuluan ini berisikan sub-sub, yaitu latar belakang masalah, rmusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, hipothesa, batasan operasional, sistematika pembahasan.
BAB II : Kajian Pustaka
  Landasan teori ini merupakan acuan teoritis dalam pembahasan skripsi dalam bab ini meliputi : a. Pembahasan tentang Intensitas Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi, b.Pembahasan tentang Kreatifitas Belajar Siswa, , d. Pengaruh Intensitas Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi terhadap Kreatifitas Belajar Siswa di Madrasah Aliyah Miftahunnajah Karanglo Mojowarno Jombang.


BAB III : Metodologi Penelitian
  Dalam bab ini akan membahas hal-hal yang berkaitan dengan prosedur / metodologi penelitian yang meliputi : rancangan (strategi) penelitian, populasi dan sampel, instrumen penelitian, tehnik pengumpulan data dan tehnik analisa data.
BAB IV : Hasil Penelitian
  Dalam bab ini akan diuraikan tentang : penyajian data-data yaitu untuk mengetahui data-data yang diperoleh dari lapangan, dan hasil dari analisa data yaitu untuk mengetahui hasil dari perhitngan data yang diperoleh sebagai bahan penyajian hipothesis.
BAB V : Penutup
  Bab lima ini merupakan bab terakhir yang di dalamnya memuat kesimpulan sebagai jawaban terhadap rumusan masalah dan saran-saran sebagai masukan kepada berbagai pihak yang terkait dengan permasalahan tersebut.



PERANAN ORANG TUA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DI SDN CATAKGAYAM I MOJOWARNO JOMBANG

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah 
Pada hakekatnya, pendidikan adalah salah satu usaha sadar manusia dalam rangka untuk mengantarkan anak didik ke arah kedewasaaan yang sepadan dengan kebutuhan bermasyarakat. Didunia pendidikan yang banyak dibahas adalah anak didik dan perkembagannya, mengingat anak bukanlah merupakan obyek pendidikan tetapi mereka membawa potensi masing-masing yang akan diarahkan kedalam pendidikan , sehingga mereka dapat berkembang sesuai dengan kemajuan zaman sebab anak merupakan generasi penerus dari generasi sebelumnya, yang kelak akan ikut serta mengisi pembangunan didunia ini.
Anak seusia sekolah dasar ini membutuhkan pendidikan agama baik dari sekolah maupun dari keluarga, agar anak ini nantinya memiliki fondasi agama yang kuat dan dapat dipakai sebagai dasar untuk kelangsungan hidupnya disiplin tengah-tengah masyarakat yang beraneka ragam bentuknya.
Kreatifitas anak bukan datang dengan sendirinya akan tetapi datang dengan pengalaman pendidikan dan pengajaran dari lingkungan, baik itu lingkungan keluarga maupun lingkungan sosial yang lebih luas lagi. Seperti halnya yang dikatakan oleh Kartini Kartono dalam bukunya yang berbunyi sebagai berikut : 
“Pendidikan dalam lingkungan keluarga merupakan awal dan sentral bagi seluruh pertumbuhan dan perkembangan anak untuk menjadi individu yang dewasa.” 
Dalam lingkungan keluarga yang biasa disebut dengan lembaga pendidikan informal , orang tua secara naluri atau kodrati merasa berkepentingan dan beharap agar kelak anak-anaknya menjadi orang yang mampu berdiri sendiri atau mandiri. Orang tua adalah penentu utama dalam pembentukan sikap anaknya dikemudian hari, karena anak pertama kali berhadapan dengan lingkungan diluar dirinya adalah dengan lingkungan keluarga. Oleh karena itu orang tua hendaknya memahami bahwa anak sangat membutuhkan keteladanan dan didikan dari mereka, baik moril maupun materiil dalam menempuh serta mengarungi kehidupan dunia yang luas, dengan berbagai macam-macam tantangan yang dapat berpengaruh serta membahayakan pribadi anak. Dan hal itu dapat saja terjadi jika sianak tidak mempunyai pengetahuan agama yang cukup dari keluarga.
Dengan adanya kemungkinan tersebut, maka merupakan kewajiban orang tualah untuk membimbing dan mendidik anak-anaknya dengan agama yang sesuai dengan fitrahnya agar mereka memiliki akhlak yang mulia dan menjadi manusia yang bertaqwa sehingga kelak jika menghadapi suatu tantangan kehiupan dunia yang dapat membahayakan pribadinya, maka mereka mampu menolak serta mengatasinya sesuai dengan yang telah diajarkan oleh orang tua serta agamanya, sebab zaman selalu berubah sehingga zaman yang kelak akan dihadapi oleh anak akan sangat berbeda dengan zaman yang dialami orang tuanya. Sebagaimana sabda Rosulullah SAW. yang berbunyi :
•
Artinya ,
“Didiklah anak-anakmu, karena itu dijadikan buat menghadapi zaman yang sama sekali lain dengan zamanmu”.
Dari uraian diatas dapatlah disimpulkan bahwa mendidik dan membimbing anak dimulai sejak mereka masih kecil sesuai dengan fitrahnya. Oleh karena itu peranan orang tua dalam mendidik anak sangatlah menentukan. Halaman ini sesuai dengan hadits Rosulullah SAW yang diriwayatkan oleh Umar bin Syuaib yang berbunyi sebagai berikut : 
•




Artinya ,
“Perintahlah anak-anakmu untuk mengerjakan sholat tatkala anak tersebut berumur tujuh tahun dan pukullah anakmu apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun (bila tidak mengerjakan sholat) dan pisahlah tempat tidurnya”.
Pada saat ini banyak orang tua yang menyekolahkan anak-anaknya dengan harapan anaknya akan dididik agar dapat membaca, menulis serta memahami ajaran-ajaran agama. Akan tetapi walaupun pengajaran tentang nilai-nilai agama sudah diajarkan disekolah, orang tua hendaknya tidak menyerahkan begitu saja pendidikan agama anaknya pada sekolah akan tetapi dirumah juga hendaknya diajarkan pada anak ajaran-ajaran agama yang mereka anut sebagai pelengkap pelajaran yang telah mereka terima disiplin sekolah. Hal ini perlu dilakukan oleh orang tua sebab sangatlah tidak mengkin menyerahkan begitu saja pendidikan agama anaknya kepada sekolah dimana waktu yang disediakan sangat terbatas, sedangkan guru dituntut untuk menghabiskan materi pelajaran yang diajarkan dalam jangka waktu yang telah ditentukan, sehingga bukan tidak mungkin guru akan berpacu dengan waktu untuk mengejar target kurikulum tanpa memperhasilkan hasil yang dicapai.
Melihat kenyataan tersebut , maka penulis mencoba untuk meneliti sejauh mana peranan orang tua terhadap prestasi belajar bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI) bagi anaknya baik disekolah maupun di rumah.

B. RUMUSAN MASALAH
Bertitik tolak dari latar belakang tersebut maka dapat diketahui bahwa prestasi belajar anak itu tidak lepas dari peranan orang tua itu sendiri disamping anak belajar disekolah, selanjutnya masalah yang perlu dikemukakan dalam skripsi adalah sebagai berikut : 
1. Adakah peranan orang tua terhadap prestasi belajar siswa dibidang studi PAI di SDN Catakgayam I Mojowarno Jombang.
2. Sejauh mana peranan orang tua terhadap prestasi belajar siswa bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI) disiplin SDN Catakgayam I Mojowarno Jombang.

C. BATASAN MASALAH
Untuk menghindari pelebaran pembahasan maka disini penelitian dibatasi hanya pada peranan orang tua dalam memberikan dorongan dan pengawasan terhadap anak dalam pengamalan ajaran agama yang telah diterima dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah sedangkan prestasi belajar anak dibatasi pada hasil belajar siswa pada nilai PAI.


D. PENEGASAN JUDUL
Skripsi ini berjudul "PERANAN ORANG TUA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DI SDN CATAKGAYAM I MOJOWARNO JOMBANG". Agar lebih jelas dan mudah difahami apa yang dimaksud dalam judul tersebut maka perlu diberi penjelasan sebagai berikut :
• Peranan :Asal kata dari "peran" yang mempunyai arti bagian dari tugas utama yang harus dilaksanakan.  
• Orang tua :Ayah dan ibu kandung. Maksudnya ayah dan ibu yang menjadi penanggung jawab di dalam memelihara dan mendidik anak.
• Prestasi belajar :Prestasi berarti hasil yang telah dicapai. Adapun yang dimaksud dengan prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai oleh anak dalam belajar. 
• Bidang studi Pendidikan agama anak :Lapangan pelajaran pendidikan yang diisi tentang ilmu agama.
• Anak :Keturunan yang kedua. 
Jadi yang dimaksud judul tersebut diatas adalah peranan atas dorongan orang tua terhadap prestasi belajar siswa di bidang studi PAI.

E. TUJUAN PENELITIAN
Sehubungan dengan permasalahan diatas maka tujuan pembahasan ini tidak terlepas dari permasalahan yang telah dipaparkan, tujuan penelitian tersebut antara lain :
a. Untuk mengetahui adanya peranan orang tua terhadap prestasi belajar siswa SDN Catakgayam I Mojowarno Jombang bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI) 
b. Untuk mengetahui sejauh mana peranan orang tua dengan prestasi belajar bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI) di SDN Catakgayam I Mojowarno Jombang.

F. MANFAAT PENELITIAN
1. Sebagai bahan pembuktian atas teori yang dipelajari oleh penulis dibangku perguruan tinggi
2. Memberi informasi padaa orang tua murid agar ikut membantu terhadap prestasi belajar bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI) anak, mengingat orang tua mempunyai peran yang besar dalam menentukan keberhasilan anak.
3. Sebagai bahan pertimbangaan bagi para pembina , pendidik atau guru dalam mengambil kebijaksanaan untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah, khususnya dalam bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI).

G. HIPOTESIS MASALAH
Dalam penelitian ini digunakan hipotesis menurut rumusannya dalam suatu penelitian, yaitu hipotesis nol (hipotesis statistik) dan hipotesis kerja (hipotesis penelitian/hipotesis deklamatif/hipotesis alternatif). Hipotesis kerja/hipotesis penelitian adalah rumusan hipotesis yang disusun peneliti dalam suatu penelitian, sedangkan hipotesis nol/hipotesis statistik adalah hipotesis bandingan dari hipotesis kerja yang diuji peneliti dengan menggunakan penghitungan statistik  
Maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Hipotesis Nihil (Ha) 
Semakin besar peranan orang tua terhadap belajar anak dalam bidang studi Pendidikan Agama Islam, maka semakin tinggi tingkat prestasi belajar bidang studi Pendidikan Agama Islam. 



2. Hipotesis Kerja (Ho) 
Semakin kecil peranan orang tua terhadap belajar anak dalam bidang studi Pendidikan Agama Islam, maka semakin rendah tingkat prestasi belajar bidang studi Pendidikan Agama Islam.

H. METODOLOGI PENELITIAN
Dalam penelitian ini menggunakan beberapa metode yang disesuaikan dengan masalah yang diangkat, yaitu :
1. Metode Sampling
Yaitu prosedur untuk mendapatkan dan mengumpulkan karakteristik yang berada didalam populasi meskipun data itu tidak diambil secara keseluruhan melainkan hanya sebagian saja. 
Didalam metode sampling , menggunakan populasi dan sampel,
a. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek / subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapakan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. 
Berkenaan dengan penelitian ini, populasi yang dijadikan oleh penulis adalah siswa SDN Catakgayam I Mojowarno Kabupaten Jombang , kelas I s/d VI Tahun Pelajaran 2005/2006 dengan jumlah siswa 120 siswa.
b. Sampel
Sampel yaitu bagian dari populasi yang dianggap dapat mewakili populasinya. 
Dalam hal ini, penulis menggunakan teknik random sampling yaitu mengambil sebagian populasi yang dianggap sudah mewakili untuk dijadikan responden penelitian. Untuk itu ditetapkan 25% dari siswa yang berjumlah 120 siswa dan dianggap sudah mewakili populasinya sehingga berjumlah 30 siswa yang terdiri atas kelas V=15 siswa dan kelas VI=15 siswa.
2. Metode Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang akan dikumpulkan , penulis menggunakan beberapa metode sebagai berikut :
a. Metode Observasi
Observasi adalah cara mengadakan pengamatan terhadap obyek, baik secara langsung maupun tidak langsung. 
Penulis menggunakan metode ini untuk mengetahui dampak langsung dari Pendidikan Agama Islam (PAI) disekolah.
b. Metode Angket (quesionare)
Angket yaitu daftar pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun secara kronologis dari yang umum mengarah pada yang khusus untuk diberikan pada responden / informan. 
Cara ini digunakan untuk memperoleh informasi dari siswa tantang peranan orang tua dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) 
c. Metode Dokumentasi
Dokumentasi yaitu suatu metode yang dipergunakan untuk menyelidiki dengan jalan mengumpulkan bahan-bahan yang ada hubungannya dengan obyek yang diteliti. 
Metode ini digunakan untuk mengetahui data tentang hal-hal yang berkaitan dengan kurikulum yang dipergunakan dalam proses belajar mengajar dan hasil prestasi belajar siswa bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI) 
3. Teknik Analisa Data
Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisa diskriptif kualitatif, sedangkan untuk menganalisa data yang diperoleh dari angket menggunakan 2 (dua) macam teknik yaitu :
a) Teknik Analisa Prosentase
Teknik ini digunakan untuk mengetahui tingkat kelayakan suatu 
angket. 
Adapun rumusannya adalah :
P = F x100%
 N 
Dengan pengertian : 
P = Prosentase
F = Frekuensi
N = Jumlah Individu. 
Dengan menggunakan standar sebagai berikut :
76 % - 100 % = Baik
56 % - 75 % = Cukup baik
40 % - 55 % = Kurang baik
40 % - kebawah = Tidak baik. 
b) Teknik analisa chi-kuadrat
Rumus digunakan untuk menganalisa ada tidakya pengaruh kedua variable tersebut. Adapun rumusannya adalah :
  
Dengan rumusan tersebut dapat dihitung X2. apabila X2 lebih besar dari X table taraf signifikan tertentu, maka hal ini berarti signifikan. Sebagai konskuensinya bahwa hipitesa nihil (Ho) di tolak dan hipotesa kerja (Ha) diterima. Kesimpulannya : Peranan orang tua berpengaruh terhadap prestasi belajar bidang studi agama Islam di SDN Catakgayam I Kec.Mojowarno Kab.Jombang
Akan tetapi sebaliknya. apabila X2 lebih kecil dari X2 table taraf signifikan tertentu, maka hal ini berarti tidak signifikan. Sebagai konskuensinya bahwa hipitesa nihil (Ho) di terima dan hipotesa kerja (Ha) ditolak. Kesimpulannya : Peranan orang tua tidak berpengaruh terhadap prestasi belajar bidang studi agama Islam di SDN Catakgayam I Kec.Mojowarno Kab.Jombang

I. SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Untuk mempermudah dalam memahami penulisan skripsi ini maka penulis membuat suatu sistematika pembahasan sebagai berikut :
Bab I : Pendahuluan yang berisikan latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan masalah, penegasan judul, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, hipotesis penelitian, metodologi penelitian dan sistematika pembahasan.
Bab II : Kajian pustaka yang berisikan tentang pembahasan masalah peranan orang tua dan Membahas masalah pendidikan agama anak serta hubungan peranan orang tua dan pengaruhnya terhadap pendidikan agama anak..
Bab III : Hasil penelitian yang terdiri dari : gambaran umum obyek penelitian, penyajian data penelitian dan analisis data penelitian..
Bab IV : Penutup yang terdiri dari kesimpulan, saran-saran dan penutup.
Untuk mempermudah dalam memahami penulisan skripsi ini maka penulis membuat suatu sistematika pembahasan sebagai berikut:
Bab I : Pendahuluan yang berisikan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika pembahasan.
Bab II : kajian pustaka yang berisikan tentang kerangka dasar teoritis dan hipotesis masalah.
Bab III : metodologi penelitian yang terdiri dari : gambaran umum obyek penelitian, populasi dan sample, jenis dan sumber data, teknik peengumpulan data, dan teknik analisa data..
Bab IV : Penutup yang terdiri atas kesimpulan, saran-saran dan penutup
 
J. JGHHG
Untuk menghindari pelebaran pembahasan maka disini penelitian dibatasi hanya pada peranan orang tua dalam memberikan dorongan dan pengawasan terhadap anak dalam pengamalan ajaran agama yang telah diterima dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah sedangkan prestasi belajar dibatasi pada hasil belajar siswa pada nilai PAI.

K. PENEGASAN JUDUL
Skripsi ini berjudul “PERANAN ORANG TUA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DI SDN CATAKGAYAM I MOJOWARNO JOMBANG”. Agar lebih jelas dan mudah difahami apa yang dimaksud dalam judul tersebut maka perlu diberi penjelasan , antara lain :
• Peranan :Asal kata dari “peran” yang mempunyai arti bagian dari tugas utama yang harus dilaksanakan. 
• Orang tua :Ayah dan ibu kandung. Maksudnya ayah dan ibu yang menjadi penanggung jawab di dalam memlihara dan mendidik anak.
• Prestasi belajar :Prestasi berarti hasil yang telah dicapai. Adapun yang dimaksud dengan prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai oleh anak dalam belajar. 
• Bidang studi Pendidikan Agama Islam :Lapangan pelajaran pendidikan yang diisi tentang ilmu agama Islam. 
• Anak :Keturunan yang kedua. 
Jadi yang dimaksud judul tersebut diatas adalah peranan atas dorongan orang tua terhadap prestasi belajar siswa dibidang studi PAI.

L. TUJUAN PENELITIAN

M. KEGUNAAN PENELITIAN 

N. HIPOTESIS PENELITIAN
Dalam penelitian ini digunakan hipotesis menurut rumusannya dalam suatu penelitian, yaitu hipotesis nol (hipotesis statistik) dan hipotesis kerja (hipotesis penelitian/hipotesis deklamatif/hipotesis alternatif). Hipotesis kerja/hipotesis penelitian adalah rumusan hipotesis yang disusun peneliti dalam suatu penelitian, sedangkan hipotesis nol/hipotesis statistik adalah hipotesis bandingan dari hipotesis kerja yang diuji peneliti dengan menggunakan penghitungan statistik. 
Maka hipotesis yang dapat penulis ajukan antara lain :
a. Hipotesis Nihil (Ha)
Semakin besar peranan orang tua terhadap belajar anak dalam bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI) , maka semakin tinggi tingkat prestasi belajar bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI) 
b. Hipotesis Kerja (Ho)
Semakin kecil peranan orang tua terhadap belajar anak dalam bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI) , maka semakin rendah tingkat prestasi belajar bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI)

O. METODOLOGI PENELITIAN

P. SISTEMATIKA PEMBAHASAN

PERANAN ORANG TUA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DI SDN CATAKGAYAM I MOJOWARNO JOMBANG

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah 
Pada hakekatnya, pendidikan adalah salah satu usaha sadar manusia dalam rangka untuk mengantarkan anak didik ke arah kedewasaaan yang sepadan dengan kebutuhan bermasyarakat. Didunia pendidikan yang banyak dibahas adalah anak didik dan perkembagannya, mengingat anak bukanlah merupakan obyek pendidikan tetapi mereka membawa potensi masing-masing yang akan diarahkan kedalam pendidikan , sehingga mereka dapat berkembang sesuai dengan kemajuan zaman sebab anak merupakan generasi penerus dari generasi sebelumnya, yang kelak akan ikut serta mengisi pembangunan didunia ini.
Anak seusia sekolah dasar ini membutuhkan pendidikan agama baik dari sekolah maupun dari keluarga, agar anak ini nantinya memiliki fondasi agama yang kuat dan dapat dipakai sebagai dasar untuk kelangsungan hidupnya disiplin tengah-tengah masyarakat yang beraneka ragam bentuknya.
Kreatifitas anak bukan datang dengan sendirinya akan tetapi datang dengan pengalaman pendidikan dan pengajaran dari lingkungan, baik itu lingkungan keluarga maupun lingkungan sosial yang lebih luas lagi. Seperti halnya yang dikatakan oleh Kartini Kartono dalam bukunya yang berbunyi sebagai berikut : 
“Pendidikan dalam lingkungan keluarga merupakan awal dan sentral bagi seluruh pertumbuhan dan perkembangan anak untuk menjadi individu yang dewasa.” 
Dalam lingkungan keluarga yang biasa disebut dengan lembaga pendidikan informal , orang tua secara naluri atau kodrati merasa berkepentingan dan beharap agar kelak anak-anaknya menjadi orang yang mampu berdiri sendiri atau mandiri. Orang tua adalah penentu utama dalam pembentukan sikap anaknya dikemudian hari, karena anak pertama kali berhadapan dengan lingkungan diluar dirinya adalah dengan lingkungan keluarga. Oleh karena itu orang tua hendaknya memahami bahwa anak sangat membutuhkan keteladanan dan didikan dari mereka, baik moril maupun materiil dalam menempuh serta mengarungi kehidupan dunia yang luas, dengan berbagai macam-macam tantangan yang dapat berpengaruh serta membahayakan pribadi anak. Dan hal itu dapat saja terjadi jika sianak tidak mempunyai pengetahuan agama yang cukup dari keluarga.
Dengan adanya kemungkinan tersebut, maka merupakan kewajiban orang tualah untuk membimbing dan mendidik anak-anaknya dengan agama yang sesuai dengan fitrahnya agar mereka memiliki akhlak yang mulia dan menjadi manusia yang bertaqwa sehingga kelak jika menghadapi suatu tantangan kehiupan dunia yang dapat membahayakan pribadinya, maka mereka mampu menolak serta mengatasinya sesuai dengan yang telah diajarkan oleh orang tua serta agamanya, sebab zaman selalu berubah sehingga zaman yang kelak akan dihadapi oleh anak akan sangat berbeda dengan zaman yang dialami orang tuanya. Sebagaimana sabda Rosulullah SAW. yang berbunyi :
•
Artinya ,
“Didiklah anak-anakmu, karena itu dijadikan buat menghadapi zaman yang sama sekali lain dengan zamanmu”.
Dari uraian diatas dapatlah disimpulkan bahwa mendidik dan membimbing anak dimulai sejak mereka masih kecil sesuai dengan fitrahnya. Oleh karena itu peranan orang tua dalam mendidik anak sangatlah menentukan. Halaman ini sesuai dengan hadits Rosulullah SAW yang diriwayatkan oleh Umar bin Syuaib yang berbunyi sebagai berikut : 
•




Artinya ,
“Perintahlah anak-anakmu untuk mengerjakan sholat tatkala anak tersebut berumur tujuh tahun dan pukullah anakmu apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun (bila tidak mengerjakan sholat) dan pisahlah tempat tidurnya”.
Pada saat ini banyak orang tua yang menyekolahkan anak-anaknya dengan harapan anaknya akan dididik agar dapat membaca, menulis serta memahami ajaran-ajaran agama. Akan tetapi walaupun pengajaran tentang nilai-nilai agama sudah diajarkan disekolah, orang tua hendaknya tidak menyerahkan begitu saja pendidikan agama anaknya pada sekolah akan tetapi dirumah juga hendaknya diajarkan pada anak ajaran-ajaran agama yang mereka anut sebagai pelengkap pelajaran yang telah mereka terima disiplin sekolah. Hal ini perlu dilakukan oleh orang tua sebab sangatlah tidak mengkin menyerahkan begitu saja pendidikan agama anaknya kepada sekolah dimana waktu yang disediakan sangat terbatas, sedangkan guru dituntut untuk menghabiskan materi pelajaran yang diajarkan dalam jangka waktu yang telah ditentukan, sehingga bukan tidak mungkin guru akan berpacu dengan waktu untuk mengejar target kurikulum tanpa memperhasilkan hasil yang dicapai.
Melihat kenyataan tersebut , maka penulis mencoba untuk meneliti sejauh mana peranan orang tua terhadap prestasi belajar bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI) bagi anaknya baik disekolah maupun di rumah.

B. RUMUSAN MASALAH
Bertitik tolak dari latar belakang tersebut maka dapat diketahui bahwa prestasi belajar anak itu tidak lepas dari peranan orang tua itu sendiri disamping anak belajar disekolah, selanjutnya masalah yang perlu dikemukakan dalam skripsi adalah sebagai berikut : 
1. Adakah peranan orang tua terhadap prestasi belajar siswa dibidang studi PAI di SDN Catakgayam I Mojowarno Jombang.
2. Sejauh mana peranan orang tua terhadap prestasi belajar siswa bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI) disiplin SDN Catakgayam I Mojowarno Jombang.

C. BATASAN MASALAH
Untuk menghindari pelebaran pembahasan maka disini penelitian dibatasi hanya pada peranan orang tua dalam memberikan dorongan dan pengawasan terhadap anak dalam pengamalan ajaran agama yang telah diterima dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah sedangkan prestasi belajar anak dibatasi pada hasil belajar siswa pada nilai PAI.


D. PENEGASAN JUDUL
Skripsi ini berjudul "PERANAN ORANG TUA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DI SDN CATAKGAYAM I MOJOWARNO JOMBANG". Agar lebih jelas dan mudah difahami apa yang dimaksud dalam judul tersebut maka perlu diberi penjelasan sebagai berikut :
• Peranan :Asal kata dari "peran" yang mempunyai arti bagian dari tugas utama yang harus dilaksanakan.  
• Orang tua :Ayah dan ibu kandung. Maksudnya ayah dan ibu yang menjadi penanggung jawab di dalam memelihara dan mendidik anak.
• Prestasi belajar :Prestasi berarti hasil yang telah dicapai. Adapun yang dimaksud dengan prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai oleh anak dalam belajar. 
• Bidang studi Pendidikan agama anak :Lapangan pelajaran pendidikan yang diisi tentang ilmu agama.
• Anak :Keturunan yang kedua. 
Jadi yang dimaksud judul tersebut diatas adalah peranan atas dorongan orang tua terhadap prestasi belajar siswa di bidang studi PAI.

E. TUJUAN PENELITIAN
Sehubungan dengan permasalahan diatas maka tujuan pembahasan ini tidak terlepas dari permasalahan yang telah dipaparkan, tujuan penelitian tersebut antara lain :
a. Untuk mengetahui adanya peranan orang tua terhadap prestasi belajar siswa SDN Catakgayam I Mojowarno Jombang bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI) 
b. Untuk mengetahui sejauh mana peranan orang tua dengan prestasi belajar bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI) di SDN Catakgayam I Mojowarno Jombang.

F. MANFAAT PENELITIAN
1. Sebagai bahan pembuktian atas teori yang dipelajari oleh penulis dibangku perguruan tinggi
2. Memberi informasi padaa orang tua murid agar ikut membantu terhadap prestasi belajar bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI) anak, mengingat orang tua mempunyai peran yang besar dalam menentukan keberhasilan anak.
3. Sebagai bahan pertimbangaan bagi para pembina , pendidik atau guru dalam mengambil kebijaksanaan untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah, khususnya dalam bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI).

G. HIPOTESIS MASALAH
Dalam penelitian ini digunakan hipotesis menurut rumusannya dalam suatu penelitian, yaitu hipotesis nol (hipotesis statistik) dan hipotesis kerja (hipotesis penelitian/hipotesis deklamatif/hipotesis alternatif). Hipotesis kerja/hipotesis penelitian adalah rumusan hipotesis yang disusun peneliti dalam suatu penelitian, sedangkan hipotesis nol/hipotesis statistik adalah hipotesis bandingan dari hipotesis kerja yang diuji peneliti dengan menggunakan penghitungan statistik  
Maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Hipotesis Nihil (Ha) 
Semakin besar peranan orang tua terhadap belajar anak dalam bidang studi Pendidikan Agama Islam, maka semakin tinggi tingkat prestasi belajar bidang studi Pendidikan Agama Islam. 



2. Hipotesis Kerja (Ho) 
Semakin kecil peranan orang tua terhadap belajar anak dalam bidang studi Pendidikan Agama Islam, maka semakin rendah tingkat prestasi belajar bidang studi Pendidikan Agama Islam.

H. METODOLOGI PENELITIAN
Dalam penelitian ini menggunakan beberapa metode yang disesuaikan dengan masalah yang diangkat, yaitu :
1. Metode Sampling
Yaitu prosedur untuk mendapatkan dan mengumpulkan karakteristik yang berada didalam populasi meskipun data itu tidak diambil secara keseluruhan melainkan hanya sebagian saja. 
Didalam metode sampling , menggunakan populasi dan sampel,
a. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek / subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapakan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. 
Berkenaan dengan penelitian ini, populasi yang dijadikan oleh penulis adalah siswa SDN Catakgayam I Mojowarno Kabupaten Jombang , kelas I s/d VI Tahun Pelajaran 2005/2006 dengan jumlah siswa 120 siswa.
b. Sampel
Sampel yaitu bagian dari populasi yang dianggap dapat mewakili populasinya. 
Dalam hal ini, penulis menggunakan teknik random sampling yaitu mengambil sebagian populasi yang dianggap sudah mewakili untuk dijadikan responden penelitian. Untuk itu ditetapkan 25% dari siswa yang berjumlah 120 siswa dan dianggap sudah mewakili populasinya sehingga berjumlah 30 siswa yang terdiri atas kelas V=15 siswa dan kelas VI=15 siswa.
2. Metode Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang akan dikumpulkan , penulis menggunakan beberapa metode sebagai berikut :
a. Metode Observasi
Observasi adalah cara mengadakan pengamatan terhadap obyek, baik secara langsung maupun tidak langsung. 
Penulis menggunakan metode ini untuk mengetahui dampak langsung dari Pendidikan Agama Islam (PAI) disekolah.
b. Metode Angket (quesionare)
Angket yaitu daftar pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun secara kronologis dari yang umum mengarah pada yang khusus untuk diberikan pada responden / informan. 
Cara ini digunakan untuk memperoleh informasi dari siswa tantang peranan orang tua dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) 
c. Metode Dokumentasi
Dokumentasi yaitu suatu metode yang dipergunakan untuk menyelidiki dengan jalan mengumpulkan bahan-bahan yang ada hubungannya dengan obyek yang diteliti. 
Metode ini digunakan untuk mengetahui data tentang hal-hal yang berkaitan dengan kurikulum yang dipergunakan dalam proses belajar mengajar dan hasil prestasi belajar siswa bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI) 
3. Teknik Analisa Data
Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisa diskriptif kualitatif, sedangkan untuk menganalisa data yang diperoleh dari angket menggunakan 2 (dua) macam teknik yaitu :
a) Teknik Analisa Prosentase
Teknik ini digunakan untuk mengetahui tingkat kelayakan suatu 
angket. 
Adapun rumusannya adalah :
P = F x100%
 N 
Dengan pengertian : 
P = Prosentase
F = Frekuensi
N = Jumlah Individu. 
Dengan menggunakan standar sebagai berikut :
76 % - 100 % = Baik
56 % - 75 % = Cukup baik
40 % - 55 % = Kurang baik
40 % - kebawah = Tidak baik. 
b) Teknik analisa chi-kuadrat
Rumus digunakan untuk menganalisa ada tidakya pengaruh kedua variable tersebut. Adapun rumusannya adalah :
  
Dengan rumusan tersebut dapat dihitung X2. apabila X2 lebih besar dari X table taraf signifikan tertentu, maka hal ini berarti signifikan. Sebagai konskuensinya bahwa hipitesa nihil (Ho) di tolak dan hipotesa kerja (Ha) diterima. Kesimpulannya : Peranan orang tua berpengaruh terhadap prestasi belajar bidang studi agama Islam di SDN Catakgayam I Kec.Mojowarno Kab.Jombang
Akan tetapi sebaliknya. apabila X2 lebih kecil dari X2 table taraf signifikan tertentu, maka hal ini berarti tidak signifikan. Sebagai konskuensinya bahwa hipitesa nihil (Ho) di terima dan hipotesa kerja (Ha) ditolak. Kesimpulannya : Peranan orang tua tidak berpengaruh terhadap prestasi belajar bidang studi agama Islam di SDN Catakgayam I Kec.Mojowarno Kab.Jombang

I. SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Untuk mempermudah dalam memahami penulisan skripsi ini maka penulis membuat suatu sistematika pembahasan sebagai berikut :
Bab I : Pendahuluan yang berisikan latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan masalah, penegasan judul, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, hipotesis penelitian, metodologi penelitian dan sistematika pembahasan.
Bab II : Kajian pustaka yang berisikan tentang pembahasan masalah peranan orang tua dan Membahas masalah pendidikan agama anak serta hubungan peranan orang tua dan pengaruhnya terhadap pendidikan agama anak..
Bab III : Hasil penelitian yang terdiri dari : gambaran umum obyek penelitian, penyajian data penelitian dan analisis data penelitian..
Bab IV : Penutup yang terdiri dari kesimpulan, saran-saran dan penutup.
Untuk mempermudah dalam memahami penulisan skripsi ini maka penulis membuat suatu sistematika pembahasan sebagai berikut:
Bab I : Pendahuluan yang berisikan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika pembahasan.
Bab II : kajian pustaka yang berisikan tentang kerangka dasar teoritis dan hipotesis masalah.
Bab III : metodologi penelitian yang terdiri dari : gambaran umum obyek penelitian, populasi dan sample, jenis dan sumber data, teknik peengumpulan data, dan teknik analisa data..
Bab IV : Penutup yang terdiri atas kesimpulan, saran-saran dan penutup
 
J. JGHHG
Untuk menghindari pelebaran pembahasan maka disini penelitian dibatasi hanya pada peranan orang tua dalam memberikan dorongan dan pengawasan terhadap anak dalam pengamalan ajaran agama yang telah diterima dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah sedangkan prestasi belajar dibatasi pada hasil belajar siswa pada nilai PAI.

K. PENEGASAN JUDUL
Skripsi ini berjudul “PERANAN ORANG TUA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DI SDN CATAKGAYAM I MOJOWARNO JOMBANG”. Agar lebih jelas dan mudah difahami apa yang dimaksud dalam judul tersebut maka perlu diberi penjelasan , antara lain :
• Peranan :Asal kata dari “peran” yang mempunyai arti bagian dari tugas utama yang harus dilaksanakan. 
• Orang tua :Ayah dan ibu kandung. Maksudnya ayah dan ibu yang menjadi penanggung jawab di dalam memlihara dan mendidik anak.
• Prestasi belajar :Prestasi berarti hasil yang telah dicapai. Adapun yang dimaksud dengan prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai oleh anak dalam belajar. 
• Bidang studi Pendidikan Agama Islam :Lapangan pelajaran pendidikan yang diisi tentang ilmu agama Islam. 
• Anak :Keturunan yang kedua. 
Jadi yang dimaksud judul tersebut diatas adalah peranan atas dorongan orang tua terhadap prestasi belajar siswa dibidang studi PAI.

L. TUJUAN PENELITIAN

M. KEGUNAAN PENELITIAN 

N. HIPOTESIS PENELITIAN
Dalam penelitian ini digunakan hipotesis menurut rumusannya dalam suatu penelitian, yaitu hipotesis nol (hipotesis statistik) dan hipotesis kerja (hipotesis penelitian/hipotesis deklamatif/hipotesis alternatif). Hipotesis kerja/hipotesis penelitian adalah rumusan hipotesis yang disusun peneliti dalam suatu penelitian, sedangkan hipotesis nol/hipotesis statistik adalah hipotesis bandingan dari hipotesis kerja yang diuji peneliti dengan menggunakan penghitungan statistik. 
Maka hipotesis yang dapat penulis ajukan antara lain :
a. Hipotesis Nihil (Ha)
Semakin besar peranan orang tua terhadap belajar anak dalam bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI) , maka semakin tinggi tingkat prestasi belajar bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI) 
b. Hipotesis Kerja (Ho)
Semakin kecil peranan orang tua terhadap belajar anak dalam bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI) , maka semakin rendah tingkat prestasi belajar bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI)

O. METODOLOGI PENELITIAN

P. SISTEMATIKA PEMBAHASAN

BIAYA DAN HARGA SKRIPSI

1. FILE SKRIPSI PLUS BIAYA PENGIRIMAN @ 150.000

2. FILE DAN EDITING PLUS BIAYA PENGIRIMAN 250.000

3. FILE DAN REFERENSI PLUS BIAYA PENGIRIMAN 650.000

4. BIAYA BISA DITRASFER LEWAT REKENING BANG BNI/BCA/BRI

5. BAGI YANG BERDOMISILI DI JOMBANG BISA LANGSUNG DATANG KE ALAMAT LANGSUNG

STUDI ANALISIS STRATEGI INTERNAL DAN EKSTERNAL TERHADAP KEGIATAN MARKETING DI KOPERASI BMT MU’AMALAH SYAR’IAH TEBUIRENG DALAM PERSPEKTIF MANAJEMEN SYA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Acapkali sebuah visi ataupun strategi yang disusun oleh suatu lembaga keuangan tidak pernah terealisasi dan bahkan terlupakan oleh setiap individu atau pegawai lembaga keuangan yang bersangkutan. Banyak kasus yang terjadi adalah pegawai ataupun manajemen tidak mengetahui aktivitas apa saja yang harus mereka lakukan setiap harinya. Akibatnya, banyak dari entitas lembaga keuangan tersebut yang tidak sadar bahwa performan ataupun aktivitasnya mempunyai akibat pada keberhasilan pencapaian visi, misi, dan strategi pemasaran. Atau dengan kata lain, suatu strategi tidak akan pernah tercapai visi, misi apabila setiap individu tidak memahami aktivitas apa yang harus ia lakukan setiap saat.
Dengan melihat kondisi internal dan eksternal penerapan sistem strategi internal dan eksternal dapat digunakan sebagai suatu sistem pengukuran kerja yang komprehensif dan seimbang, yang secara terus menerus akan memantau keberhasilan penerapan setrategi perusahaan sehingga kinerja perusahaan setiap saat dapat diketahui secara jelas. Sebagai syarat akan keberhasilan dari sebuah strategi adalah adanya kesesuaian strategi dengan kondisi lingkunagan masyarakat, baik kondisi internal maupun eksternal.
Untuk itulah, diperlukan strategi pengembangan lembaga keuangan di masa depan. Termasuk kedalamnya adalah transformasi lembaga keuangan yang aman dan nyaman, serta desain pengembangan lembaga keuangan 1.
Dalam perkembangan di dunia ekonomi saat ini banyak persaingan-persaingan yang begitu dahsyatnya, sehingga para ekonom harus mempunyai strategi yang matang untuk mengembangkan suatu usaha yang akan dirintisnya. Pada kemajuan zaman saat ini banyak perusahaan-perusahaan yang mengalami gulung tikar, dikarenakan kurang begitu mengamati situasi dan kondisi terhadap lingkungan di sekitarnya.
Dengan keadaan seperti itu diperlukan setrategi internal dan eksternal untuk mengetahui kondisi di dalam perusahaan dan kondisi di luar perusahaan. Dengan menggunakan analisis tersebut, maka para pengusaha dapat mempertimbangkan apa saja yang akan dilakukan untuk mengembangkan usahanya, begitu pula yang terjadi pada dunia lembaga keuangan. Dalam hal ini sekarang banyak lembaga keuangan-lembaga keuangan baru yang muncul dengan strategi dan teknik yang berbeda-beda, untuk mengembangkan jaringan dalam menambah aset lembaga keuangan.
Meskipun demikian, sebelum menentukan alternatif strategis yang layak, perencanaan strategis harus mengevaluasi dan meninjau kembali visi dan misi perusahaan. Setelah itu baru tahap selanjutnya dapat dilaksanakan, yaitu regeneration, evaluasi, dan pemilihan alternatif strategi yang terbaik. Analisis situasi membutuhkan keterlibatan manajemen puncak secara penuh untuk menentukan strategi yang sesuai dengan peluang eksternal dan kekuatan internal agar dapat menghasilkan corporation’s distinctive competence (perusahaan yang memiliki kekuatan yang tidak mudah ditiru oleh perusahaan pesaing. 2.  
Untuk mengantisipasi adanya kerugian yang akan dihadapi baik di bidang marketing, maka perlu juga untuk meninjau ulang kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan selama kurun waktu yang telah ditentukan pada saat perkembangan dilakukan. Oleh sebab itu, seorang menejer harus lebih pandai dalam mengatur menejemen yang akan dirintisnya. Dalam merintis menejemen yang sempurna, maka dibutuhkan setrategi internal dan eksternal untuk menghadapi kejadian-kejadian diluar rencana.
Mengingat bahwa, marketing berpangkal pada kebutuhan nasabah yang belum terpenuhi dalam hal produk, kualitas, harga, kemudahan mendapat sparepart dan sebagainya. Produk bukan satu-satunya menjamin kepuasan nasabah, akan tetapi ada beberapa variabel lain yang sangat mempengaruhi kepuasan nasabah yakni harga produk, lokasi, distribusi dan sebagainya. Apabila konsumen merasa puas, maka ia akan kembali dan tetap bertahan dengan produk tersebut dan memberi tahu pihak lain untuk mencoba produk tersebut.3.  
Melihat dari kebutuhan konsumen, lingkungan marketing dapat berupa kesempatan dan ancaman bagi lembaga keuangan, maka dilakukan suatu riset marketing serta strategi internal dan eksternal yaitu analisis untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan yang dimiliki lembaga keuangan serta sekaligus mengetahui peluang dan hambatan bagi lembaga keuangan tersebut.
Sedangkan masalah dalam kegiatan marketing yang terjadi dilapangan adalah bagaimana mengatur strategi internal dan eksternal yang ada pada lembaga keuangan, supaya berjalan sesuai dengan rencana (planning). Dalam hal ini penulis akan mencoba untuk mengetahui strategi pemasaran internal dan eksternal yang ada dilapangan dalam perspektif manajemen syari’ah, dan bagaimana menyikapinya.  
Manurut pandangan manajemen syari’ah, lingkungan marketing itu sangat mempengaruhi, karena menyangkut perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan atas program-program yang dirancang untuk menghasilkan transaksi pada target pasar, guna memenuhi kebutuhan perorangan atau kelompok berdasarkan asas saling menguntungkan, melalui pemanfaatan produk, harga, promosi, dan distribusi.
Karena dalam pembahasan manajemen syari’ah akan diarahkan pada pemahaman terhadap kepuasan pembelian dan strategi pemasaran yang berisikan pembuatan sasaran pemasaran, formulasi strategi, dan taktis/program pemasaran.
Dalam ajaran Islam manajemen adalah metode Ilahi untuk menegakkan kebenaran dan menghapus kebatilan, dan untuk menciptakan masyarakat yang adil, sejahtera serta diridai Allah. Kebenaran menurut ukuran dan norma Islam , antara lain tersirat di dalam firman Allah surat Al-Isra’ ayat 81 yang berbunyi :



“Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap." Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” 4.

Manajemen merupakan suatu metode pengelolaan yang baik dan benar, untuk menghindari kesalahan dan kekeliruan dan menegakkan kebenaran. Menegakkan kebenaran adalah metode Allah yang harus ditaati oleh manusia. Dengan demikian manajemen yang disusun oleh manusia untuk menegakkan kebenaran itu wajib.5.  
Dari pemaparan tersebut, Peneliti tertarik untuk mengetahui kegiatan marketing yang dilakukan oleh Koperasi BMT Muamalah. Oleh karena itu kegiatan marketing sangatlah penting bagi perkembangan suatu lembaga keuangan, sehingga harus betul-betul diperhatikan tentang perkembangannya, terutama pemasaran yang dilakukan oleh lembaga keuangan bernuansa Islam seperti Koperasi BMT. Mu’amalah, di lain sisi karena Koperasi tersebut kurang begitu dikenal oleh masyarakat. Oleh karena itu, Peneliti akan membahas tentang kegiatan marketing yang dilakukan lembaga keuangan tersebut, sejauh mana perkembangannya jika di bandingkan dengan lembaga keuangan yang lain. Terkait dengan itu pula, Jombang secara umum merupakan salah satu tempat Pondok pesantren di Jawa Timur dan termasuk salah satu daerah yang menjadi areal perdagangan. Secara ekonomi, hal tersebut sangat berpengaruh dan menjadi peluang yang sangat besar bagi Koperasi BMT, untuk memasarkan produknya kepada masyarakat setempat dengan beberapa produk yang dimilikinya. 
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut diatas, peneliti merumuskan 2 (dua) masalah, yaitu :  
1. Bagaimana strategi internal dan eksternal terhadap kegiatan marketing yang telah dilakukan oleh Koperasi BMT Mu’amalah Syari’ah Tebuireng ?
2. Bagaimana perspektif manajemen syari’ah terhadap kegiatan marketing yang telah dilakukan oleh Koperasi BMT Mu’amalah Syari’ah Tebuireng ?

C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah tersebut, maka penelitian ini bertujuan sebagai berikut : 
1. Ingin mengetahui data tentang bagaimana strategi internal dan eksternal sebagai alat untuk menganalisis kegiatan Internal lembaga keuangan maupun kondisi Eksternal lembaga keuangan.
2. Ingin mengetahui data tentang bagaimana strategi Koperasi BMT Mu’amalah Syari’ah sudah berjalan dengan baik dan bagaimana perspektif manajemen syari’ah terhadap proses kegiatannya.

D. Kegunaan Penelitian 
Kegunaan penelitian ini sebagai berikut : 
1. Secara teoritis
Secara teoritis penulisan skripsi ini diharapkan mampu memberikan manfaat, sebagai berikut :
a. Dapat membandingkan kebenaran teori yang telah di dapat dibagku kuliah dengan praktek yang ada di Lapangan (Koperasi BMT Muamalah Syari'ah)
b. Dapat memberikan kontribusi pemikiran tentang lembaga keuangan syari’ah, terutama yang berkaitan dengan strategi pemasaran yang dilakukan oleh Koperasi BMT Mu’amalah Syari’ah. 
2. Secara praktis
Pembahasan skripsi ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam pelaksanaan strategi pemasaran, sehingga mempunyai prospek dengan lembaga keuangan yang ada di Indonesia dan kususnya di Koperasi BMT Mu’amalah Syari’ah lebih meningkat, dan untuk membandingkan praktek yang telah di dapat dilapangan dengan teori yang telah ada.
E. Penegasan Judul
Skripsi ini berjudul STUDI ANALISIS STRATEGI INTERNAL DAN EKSTERNAL TERHADAP KEGIATAN MARKETING DI KOPERASI BMT MU’AMALAH SYAR’IAH TEBUIRENG DALAM PERSPEKTIF MANAJEMEN SYARI’AH . Untuk memperjelas dan menghindari penafsiran yang berbeda-beda maka penulis uraikan penegasan judul sebagai berikut :
Studi Analisis : Penyelidikan terhadap suatu peristiwa, untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.6..
Strategi Internal dan Eksternal : Sebuah rangkaian penelitian terhadap kondisi nyata tentang kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman yang akan dihadapi 7.
Kegiatan Marketing : Adalah kegiatan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, budaya, politik, ekonomi, dan manajerial. Akibat dari pengaruh faktor tersebut adalah masing-masing individu maupun kelompok mendapatkan kebutuhan dan keinginan dengan menciptakan, menawarkan dan menukar produk yang memiliki nilai komoditas.8.
Koperasi BMT Mu’amalah Syari’ah : Lembaga yang melakukan pembinaan dan pendanaan yang berdasarkan prinsip syariah.9.
Perspektif Manajemen Syari’ah : Pandangan manajemen syari’ah merupakan suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumberdaya-sumberdaya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sesuai dengan hukum Islam yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadits.10...
Jadi yang dimaksud dengan judul diatas adalah tinjauan atau pandangan manajemen syari’ah terhadap kegiatan marketing di Koperasi BMT Mu’amalah Syari’ah yang membandingkan antara faktor Internal dengan faktor Eksternal yang berkembang pada masa sekarang ini. Dalam kegiatan marketing pasti akan menggunakan strategi dan taktik untuk mengembangkan usaha sehingga dapat membantu kegiatan ekonomi masyarakat kecil secara keseluruhan.

F. Kerangka Metodologi
1. Lokasi Penelitian
Adapun lokasi penelitian dilakukan di Koperasi BMT Mu’amalah Syari’ah Tebuireng Jl. Grilya. No. 65. 
2. Jenis Penelitian
Sebagai upaya untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini, penulis menggunakan dua jenis penelitian, yaitu :
a. Penelitian kepustakaan 
Penelitian kepustakaan adalah penelitian yang dapat menghasilkan teori-teori (atau penjelasan) yang dihasilkan dari sumber primer yaitu buku yang dipakai dalam referensi penulisan skripsi. 11.
b. Penelitian Lapangan 
Penelitian Lapangan adalah penelitian yang dapat menghasilkan deskripsi tentang apa yang telah terjadi dari obyek yang telah diteliti dengan menggunakan metode interviu atau memakai metode sampling (mengambil contoh dari sebagian) 12.

3. Jenis Data
Didalam penyusunan skripsi ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa data-data tertulis atau lisan dari orang-orang lain yang diamati.
 Sesuai dengan rumusan masalah diatas, maka data-data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah :
a. Sistem strategi pemasaran yang dipakai Koperasi BMT Mu’amalah Syari’ah Tebuireng 
b. Keunggulan yang dimiliki Koperasi BMT Mu’amalah Syari’ah Tebuireng, hal-hal yang mempengaruhi kegiatan marketing
4. Sumber Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini dari dua sumber, yaitu : sumber primer dan sumber skunder. Sumber primer adalah sumber data yang diperoleh secara langsung dari manajemen Koperasi BMT Mu’amalah Syari’ah sekitar operasional yang dipakai dalam melakukan aktivitasnya, konsep dasar Koperasi BMT Mu’amalah Syari’ah dalam kegiatan operasionalnya, maupun upaya-upaya yang dilakukan dalam meningkatkan pendapatan masyarakat. Adapun sumber data skunder adalah data yang diperoleh melalui buku-buku kepustakaan (Library Research) yang hubungannya dengan lembaga keuangan 13.
a. Sumber Data kepustakaan
Sedangkan sumber data kepustakaan diperoleh melalui buku-buku kepustakaan (library research) yang berhubungan dengan pelaksanaan marketing juga berhubungan dengan data-data skunder adalah sebagai berikut :
1). Manajemen Pemasaran Bank oleh Murti Sumarni.
2). Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis oleh Freddy Rangkuti
3). Manajemen Bank Syari'ah oleh Muhammad.
4). Buku Pelajaran Marketing Bagi Anda Yang Ingin Tapi Malas Belajar Marketing oleh Ariadi Abimanju.  
5). Manajemen oleh T. Hani Handoko.
6). Dasar-Dasar Manajemen Bank Syariah oleh Zainul Arifin.
b. Sumber Data Lapangan
Sumber data lapangan adalah sumber data yang di peroleh langsung dari lapangan, dalam hal ini adalah Koperasi BMT Mu’amalah Syari'ah.
Teknik-teknik pengumpulan data dengan :
1). Wawancara dengan Derektur Koperasi BMT Mu’amalah. Syari'ah.
2). Wawancara dengan bagian marketing Koperasi BMT Mu’amalah. 
3). Wawancara dengan para nasabah Koperasi BMT Mu’amalah 
4). Brosur marketing Koperasi BMT Mu’amalah. Syari'ah.
5). Dokumentasi dan Arsip-Arsip Koperasi BMT Mu’amalah. Syari'ah 
5. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data sering menggunakan cara-cara yang lazim digunakan dalam penelitian. Teknik yang kerapkali dipergunakan, misalnya wawancara, daftar pertanyaan (questionnaire), skala obyektif, teknik proyektif, dan pengamatan tindak tanduk.
Metode pengumpulan data pada penulisan skripsi ini ada dua macam metode, yaitu :
a. Teknik pengumpulan data kepustakaan 
Data kepustakaan diperoleh penulis dengan mengumpulkan data sebanyak-banyaknya yang relevan dengan pembahasan yang kemudian mendiskripsikan data-data tersebut, artinya semua data yang telah terkumpul dipakai sedemikian rupa agar nantinya lebih mudah dalam menganalisanya dan digunakan untuk membandingkan apa-apa yang seharusnya terjadi dengan kejadian yang sebenarnya, maka digunakan teori yang didapat pada buku-buku, makalah atau yang lain14.
b. Teknik pengumpulan Data Lapangan
1). Interview 
Interview adalah percakapan langsung antara responden dan peneliti secara berhadapan muka untuk memperoleh data, karena hal ini untuk mengetahui pendapat para responden tentang beberapa kondisi Koperasi BMT Mu’amalah. Syari'ah.
2). Observasi 
Observasi adalah mengadakan pengamatan langsung pada obyek yang diteliti, kemudian mencatat perilaku dan kejadian yang terjadi pada keadaan yang sebenarnya yaitu dengan melihat sisi positif dan negatifnya menjadi nasabah Koperasi BMT Mu’amalah. Syari'ah Dari data yang sudah terkumpul penulis mengklasifikasikan dengan menyesuaikan dari sistematika yang telah disusun terlebih dahulu, selanjutnya dianalisa dengan metode-metode tertentu 15.
3). Dokumentasi
Dokumentasi adalah arsip-arsip data yang ada dilapangan yang berupa tulisan, seperti : brosur marketing, laporan perbulan dan lain-lain.  
6. Teknik Analisa Data
Didalam penganalisaan data, metode yang penulis gunakan adalah :
a. Metode Deduktif : yaitu metode penganalisaan data yang dimulai dari teori-teori yang bersifat umum. Dalam hal ini diawali dengan pembahasan pemasaran yang meliputi marketing, analisa SWOT dan strategi marketing, kemudian dikaitkan dengan strategi pemasaran Koperasi BMT Mu’amalah Syariah Tebuireng.
b. Metode Deskriptif : yaitu metode yang membuat pencadaran mengenai situasi-situasi atau kejadian-kejadian untuk mengakumulasikan data dasar yang disusun secara sistematis, aktual dan akurat. 16.
7. Cara Pendekatan
Dalam pembahasan skripsi ini diharapkan agar mudah dipahami dan lebih tetarah, maka perlu adanya pendekatan masalah adapun pendekatan yang sesuai dengan pembahasan ini adalah:
a. Pendekatan normatif, yaitu pendekatan terhadap suatu masalah yang menitikberatkan pada ketentuan-ketentuan yang berlaku dimana peulis melakukan penyelidikan terhadap peraturan perundang-undangan yang mempunyai relevansi dengan pembahasan skripsi ini 
b. Pendekatan tekstual, yaitu pendekatan terhadap masalah yang menitikberatkan pada teks suatu dalil dimana penulis melakukan penyimakan perkalimat terhadap teks-teks yang terdapat pada buku-buku atau literatur yang menjadi sumber data pada skripsi ini.
c. Pendekatan fenomenologis, yaitu dalam pandangan fenomenologis berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang biasa dalam situasi tertentu. Sedangkan pemeriksaannya dengan sistem interview. Dan yang ditekankan oleh kaum fenomenologis ialah aspek subyektif dari perilaku orang. Persoalan pokok dalam pendekatan fenomenologis yaitu dari segi pandangan mereka, bukanlah merupakan ekspresi yang digunakan sebagai pendekatan dalam pekerjaannya 17.

G. Sistematika Pembahasan
Untuk menghasilkan pembahasan yang sistematis serta adanya keterikatan antara satu pembahasan dengan pembahasan yang lain, maka perlu kiranya penulis membuat sistematika pembahasan sebagai berikut :
B A B I : PENDAHULUAN
Merupakan pendahuluan yang isinya meliputi latar belakang masalah, sehingga penulis terdorong untuk melakukan penelitian penulisan skripsi, dari latar belakang tersebut dapat ditarik beberapa pertanyaan yang tertuang dalam rumusan masalah, rumusan masalah berfungsi untuk mengarahkan pembahasan skripsi, sehingga tidak melebar, lebih diperjelas lagi dengan kegunaan dan tujuan penelitian dilanjudkan dengan pembahasan judul yang sengaja ditampilkan untuk menghindari perbedaan penafsiran atau pemahaman dalam memahami maksud dari skripsi ini.. Dalam hal ini penulis anggap penting agar studi analisa ini bisa mencapai hasil yang optimal. Berangkat dari itulah, maka dalam bab ini penulis juga menjelaskan tentang metodologi yang mencakup tentang lokasi penelitian, jenis penelian, jenis data, sumber data yang menjelaskan tentang dari mana data tersebut diperoleh, teknik pengumpulan data, teknik analisa data dan cara pendekatan.
B A B II : LANDASAN TEORITIS
Dalam bab ini dibahas secara umum tentang masalah-masalah yang berkenaan dengan tujuan umum tentang marketing dan analisa SWOT, yang terbagi dalam beberapa sub pembahasan, sub bab I; mengenai marketing yang memberikan definisi pemasaran secara jelas, yang menjadi pembuka pertama pembahasan skripsi ini nantinya, analisa SWOT, yang terbagi menjadi dua sub yang pertama konsep analisa dan perumusan perencanaan usaha, serta strategi marketing, agar mengetahui langkah apa yang harus dilakukan oleh lembaga keuangan.
B A B III : DESKRIPSI HASIL PENELITIAN
Membeberkan data yang berdasarkan pengalaman / kenyataan tentang strategi internal dan eksternal di Koperasi BMT Mu’amalah Syri'ah, bab ini mengarahkan pada permasalahan yang ada di dalam lokasi penelitian yang akan dianalisa pada bab berikutnya sehingga perlu dikemukakan tentang sejarah berdirinya, tujuan dan target serta operasionalnya, produk-produk Koperasi BMT Mu’amalah Syri'ah, dan strategi internal dan eksternal yang ada di Koperasi BMT Mu’amalah Syari’ah. 
B A B IV : ANALISA STRATEGI INTERNAL DAN EKSTERNAL TERHADAP KEGIATAN MARKETING DAN PERSPEKTIF MANAJEMEN SYARI’AH .
 Bab ini merupakan analisis pembahasan. Oleh karenanya di dalam bab ini dibahas masalah yang menjadi inti dari persoalan strategi internal dan eksternal terhadap kegiatan marketing, yang didalamnya membahas tentang bagaimana bagaian pemasaran dalam memasarkan produk-produk Koperasi, eksistensi dan strategi pemasaran Koperasi BMT Mu’amalah Syri'ah, yakni kegiatan pemasaran yang dilakukan Koperasi harus berjalan sesuai dengan aturan-aturan yang ada dalam Koperasi, serta bagaimana strategi yang akan dibuat oleh Koperasi dalam mengantisipasi kejadian-kejadian yang ada diluar rencana Dan bab ini diakhiri dengan tinjauan manajemen syari’ah terhadap kegiatan marketing di Koperasi BMT Mu’amalah Syri'ah.
B A BV : PENUTUP
 Bab ini merupakan akhir dari pembahasan skripsi. Di dalam bab ini dikemukakan kesimpulan dari pembahasan, yang intinya merupakan jawaban final dari pokok-pokok rumusan masalah yang dikemas dalam pembahasan ini. Bab ini diakhiri dengan saran-saran yang mempunyai relevensi, tujuan dan kegunaan, pembahasan ini terutama bagi penulis kususnya dan bagi pembaca umumnya.

judul “PENGARUH INTENSITAS KOMINIKASI ORANG TUA – ANAK TERHADAP KEMATANGAN PRIBADI ANAK DI SMP NEGERI 1 JOGOROTO JOMBANG

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Manusia adalah makhluk Allah yang telah diciptakan dalam bentuk yang paling indah (QS 95:4) dan dilengkapi dengan berbagai atribut yang membedakan antara manusia dengan makhluk ciptaan Allah lainnya yang ada di alam raya ini. Dengan memperhatikan yang ada pada manusia, maka definisi yang diberikan oleh para ahli tentang manusia menjadi beragam. Dengan kata lain manusia tidak dapat hidup sendiri, manusia juga mempunyai hubungan interpredensi, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan fihak lain. Manusia akan mencapai kesadaran dirinya dengan adanya orang lain dan hubungan antara manusia akan tercapai melalui komunikasi.
Intensitas komunikasi bagi manusia sebagai makhluk sosial mempunyai kdudukan yang sangat asasi dalam perjalanan hidupnya, karena dengan komunikasi manusia akan dapat memenuhi segala kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan lahir maupun kebutuhan batin. Dengan komunikasi manusia dapat saling membentuk kasih sayang, membina persahabatan, menyebarkan pengatahuan dan melestarikan peradaban atau kebudayan. Hal ini merupakan suatu kebutuhan yang tidak dapat ditawar lagi. Akan tetapi komunikasi bukan hanya mempunyai dampak positif bila komunikasi tidak dilakukan dengan benar, tetapi perpecahan, permusuhan, propaganda yang menanamkan kebencian merupakan salah satu dampak negatif dari komunikasi.
Intensitas komunikasi bukan sesuatu yang sangat mahal, oleh karena itu komunikasi bisa terjadi di mana saja dan kapan saja, bisa terjadi di pasar, di masjid, di sekolah atau di semua tempat yang terdapat kegiatan sosial manusia. Komunikasi sangat urgent dan sangat diperlukan kehadirannya dalam lingkungan keluarga dimana keluarga adalah merupakan ajang membentuk watak dan kematangan pribadi anak yang pertama dan utama.
Dalam sebuah keluarga intensitas komunikasi memegang peranan yang sangat penting dan vital, karena dalam sebuah keluarga keharmonisan keluarga tersebut ditentukan oleh lancar atau tidaknya komunikasi dalam keluarga. Hal ini di karenakan keluarga adalah kelompok pertama dan utama yang di kenal oleh individu dalam kehidupannya. Abu Ahmad ( 87 : 1991 ) menyatakan bahwa keluarga adalah merupakan kelompok pertama yang dikenal anak dalam kehidupannya dan sangat berpengaruh.
Dari pernyatan di atas dapat dilihat bahwa keluarga merupakan wahana bagi anak dalam perkembangan jiwa dan kematangan pribadi anak dalam menjalani hidupnya kelak. Hal ini di karenakan anak sebelum melakukan interaksi dengan lingkungannya yang lebih luas di luar lingkungan keluarga maka anak terlebih dahulu belajar dan melakukan interaksi atau komunikasi dengan anggota keluarganya terlebih dahulu. Zakiyah Darajat ( 56 : 1991) menyatakan bahwa semua pengalaman yang dilalui oleh anak sejak lahir merupakan unsur- unsur dalam membentuk pribadi.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa pembinaan pribadi anak telah di mulai dalam keluarga sejak anak lahir sampai dewasa. Semua pengalaman anak yang di dapat dalam hidupnya sejak lahir sampai masa sekolah akan menjadi unsur- unsur penting untuk membentuk sikap dan pribadinya. Dengan dilatar belakangi situasi keluarga yang beragam, serta lingkungan yang berbeda maka akan menghasilkan kematangan pribadi yang beragaaam dan berbeda pula.
Anak adalah individu yang sedang mengalami perkembangan dan memerlukan pembinan secara kontinue dan terarah yang positif, hal ini tidak lain karena anak adalah merupakan tanggung jawab orang tua. Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam surat At Tahrim ayat 6 
 

“ Hai orang- orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka “

Dalam rangka mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak, diperlukan figur seorang pendidik yang mampu berperan dalam kematangan pribadi anak ( termasuk anggota keluarga dalam hal ini yang paling dominan adalah orang tua ). Kenyataan ini patut menjadi perhatian bagi orang tua sebab, apabila menginginkan anaknya tumbuh dengan mencontoh kebiasan- kebiasan yang baik daaan etika mulia semuanya harus dimulai dalam lingkungan keluarga.
Berdasarkan pemikiran di atas, maka penulis merasa tertarik untuk mengangkat masalah komunikasi yang terjadi antara orang tua dengan anak dalam keluarga yang bermuatan edukatif. Karena komunikasi merupakan hal yang vital dalam kematangan pribadi anak dalam predikatnya sebagai media dalam penyampaian pesan da keinginan dari masing- masing fihak yang ada dalam keluarga. Penulis memberi judul “PENGARUH INTENSITAS KOMINIKASI ORANG TUA – ANAK TERHADAP KEMATANGAN PRIBADI ANAK DI SMP NEGERI 1 JOGOROTO JOMBANG“ .  
   
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah tingkat komunikasi orang tua anak di SMP Negeri 1 Jogoroto?  
2. Bagaimanakah kematangan pribadi anak di SMP Negeri 1 Jogoroto?
3. Bagaimana pengaruh intensitas komunikasi orang tua – anak terhadap kematangan pribadi anak di SMP Negeri 1 Jogoroto? 

C. Tujuan Penelitian
Mengacu pada rumusan masalah tersebut maka peneliti disini mempunyai tujuan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui tingkat komunikasi orang tua –anak di SMP Negeri 1 Jogoroto?
2. Untuk mengetahui tingkat kematangan pribadi anak di SMP Negeri 1 Jogoroto?
3. Untuk mengetahui pengaruh intensitas komunikasi orang tu – anak terhadap kematangan pribadi anak di SMP Negeri 1 Jogoroto?

D. Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah pernyataan yang masih lemah kebenarannya dan masih perlu dibuktikan kenyataannya. Sebagai jawaban sementara dari penelitian ini adalah “terdapat hubungan yang signifikan antara intensitas komunikasi orang tua - anak dengan kematangan pribadi anak”. Jadi semakin intensif anak berhubungan dengan orang tua maka akan semakin berpengaruh dalam pembentukan kepribadian anak itu sendiri.

E. Kegunaan Penelitian
1. Secara Teoritis
Sebagai sumbangan khazanah ilmu pengetahuan dan berguna dalam memperkaya lingkup karya-karya penelitian lapangan /praktis.
2. Secara Praktis
Dapat memberikan masukan kepada orang tua betapa pentingnya komunikasi kepada anak dalam pembentukan kepribadian anak, dan kepada lembaga sekolah bahwa komunikasi guru juga sangat berpengaruh pada anak.

F. Batasan Operasional
Intensitas komunikasi orang tua anak suatu proses saling mengerti, berbagi atau menggunakan informasi secara bersama antara orang tua anak dalam proses komunikasi.
Bentuk kematangan pribadi merupakan salah satu unsur atau faktor yang sangat penting dan harus dikembangkan, sesuai dengan tujuan dan arah pedidikan padaa umumnya yaitu arah kedewasaan. Kedewasaan disini adalah kedewasaan dalam arti luas yaitu kedewasaan jasmani, kedewasaan dalam berfikir, maupun kedewasaan dalam bertingkah laku. 

G. Sistematika Pembahasan 
Dalam penulisan skripsi ini, kami uraikan menjadi lima bab yang masing-masing bab memuat sub bab pokok bahasan. Adapun bab – bab tersebut adalah sebagai berikut : 
BAB I : Bab satu merupakan pendahuluan dari penulisan skripsi ini yang tema bahasannya meliputi : Latar Belakang Masalah Yang Menjelaskan Diangkatnya Judul Ini, Kemudian Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Hipotesis Penelitian, Dan Kegunaan Penelitian, Batasan Operasional Serta Sistematika Pembahasan yang menjelaskan uraian dan tata urutan pembahasan dalam judul skripsi ini.
BAB II : Merupakan kajian pustaka yang dipergunakan dalam Penulisan Skripsi ini yang bahasannya meliputi : Komunikasi Orang Tua – Anak yang uraiannya meliputi : Pengertian Komunikasi Orang Tua-Anak, Urgensi Komunikasi Orang Tua – Anak, dan Komunikasi keluarga menurut pandangan Islam serta cara motivasi orang tua terhadap Anak. Kemudian beralih pada bahasan tentang kematangan pribadi anak yang uraiannya meliputi : Pengertian Kepribadian, Faktor - faktor yang mempengaruhi Kepribadian, Struktur Kepribadian, Dinamika Kepribadian dan Perkembangan Kepribadian serta ciri – ciri kematangan pribadi. 
BAB III : Bab ini merupakan metodologi penelitian yang berisi : Rancangan Penelitian, Populasi dan Sampel, Instrument Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data serta Teknik Analisa Data. 
BAB IV : Bab ini merupakan laporan hasil penelitian yang berisi Diskripsi data dan Pengujian Hipotesis. 
BAB V : Bab ini merupakan bab terakhir yang merupakan kesimpulan dari penulisan skripsi ini serta saran – saran dalam skripsi ini. 
Demikianlah sistematika yang penulis pergunakan dalam penulisan skripsi ini. 













BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Pembahasan tentang Komunikasi Orang Tua - Anak.
1. Pengertian Komunikasi
Untuk memahami pengertian komunikasi orang tua - anak, terlebih dahulu harus memahami pengertian komunikasi secara umum sehingga kemudian dapat merumuskan apa yang dimaksud dengan komunikasi orang tua - anak .
Menurut etimologi, komunikasi berarti hubungan atau perhubungan. Istilah komunikasi ini berasal dari bahasa latin yaitu comunicatio yang bersumber dari kata communis yang berarti “ sama “. Sama di sini maksudnya adalah sama makna.
Sedangkan definisi komunikasi secara terminologi yang telah di tuangkan oleh para ahli komunikasi sangat beragam. Keragaman definisi ini di pengaruhi oleh perbedaan sudut pandang serta bidang ilmu yang di miliki dan digunakan para ahli untuk mendefinisikan komunikasi. Sehingga kemudian menurut Jalalludin Rakhmat, Dance ( 1970 ) telah berhasil mengumpulkan tidak kurang dari 98 definisi komunikasi, sehingga dengan melihat banyaknya definisi ini B Aubrey Fisher merasa tidak mampu lagi mendatangkan sebuah definisi komunikasi yang betul – betul telah disepakati oleh para ahli, tetapi bukan berarti ketika tidak adanya definisi komunikasi yang disepakati, definisi yang banyak itu salah dan tidak bisa dipakai sekali lagi Fisher mengatakan tidak, karena menurutnya dari definisi yang banyak itu tetap mengarah kepada fenomena komunikasi yang sama dan konstan.
Untuk melihat fenomena komunikasi tersebut, dan sekaligus membuktikan kebenaran pernyataan Fisher, berikut ini beberapa definisi komunikasi yang telah d tuangkan oleh para ahli.
Houland, Jenis daaan Kelly mendefinisikan komunikasi sebagai proses di mana seseorang (komunikator) menyamakan rangsangan (biasanya verbal) untuk mengubah perilaku individu yang lain.
Senada dengan definisi ini dinyatakan oleh Dance yang mengatakan bahwa komunikasi adalah pengungkapan respon melalui simbol- simbol verbal, di mana simbol- simbol verbal ini bertindak sebagai perangsang (stimulasi ) bagi respon yang terungkap tadi.
Adapun para ahli yang lain seperti Berelson dan Steiner, nampak lebih memperhatikan komunikasi pada unsur penyampain, sehingga menurut mereka komunikasi adalah penyampaian informasi, ide, emosi, ketrampilan dan seterusnya, melalui penggunan simbol kata, gambar, angka, grafik dan lain- lain. Definsi yang senada dengan ini dinyatakan oleh Shannon Danm Wear ( 1949 ) tetapi dengan menambahkan unsur yang lainnya sehingga menurutnya, komunikasi itu mencakup semua prosedur melalui fikiran seseorang dapat mempengaruhi orang lain. Dalam redaksi yang lain Goge (1959) mendefinisikan komunikasi sebagai proses yaaang membuat adanya keberasaman ( arti ) bagi dua atau lebih orang yang semula di monopoli oleh satu atau beberapa orang.
Dari beberapa definisi yang tercantum di atas, menurut penulis hampir semuanya terangkum dalam penjelasan yang dalam kamus psikologi “Dictionary Of Behavioral Science “ yang menyatakan sebagai berikut:
a. Komunikasi adalah perubahan energi dari satu tempat ke tempat yang lain seperti dalam sistem saraf atau penyampaian gelombang- gelombang suara.
b. Komunikasi adalah penyampaian atau peneriman signal atau pesan oleh organisme
c. Komunikasi adalah pesan yang di sampaikan
d. Komunikasi adalah proses yang dilakukan satu sistem untuk mempengaruhi sistem yag lain melalui pengaturan signal – signal yang di sampaikan
e. Komunikasi adalah pengaruh satu wilayah persona yang lain sehingga perubahan dalam satu wilayah menimbulkan perubahan yang berkaitan dengan wilayah lain
f. Komunikasi adalah pesan pasien kepada pemberi terapi dalam psikoterapi
Kalau daftar definisi komunikasi yang tertulis dalam kamus psikologi tersebut diamati, maka dalam lapangan psikologi komunikasi mempunyai makna yang luas meliputi segala penyampain energi, gelombang suara, tanda di antara tempat, sistem atau organisme. Kata komunikasi juga dapat di artikan sebagai proses, pesan dan juga pengaruh.
Dengan memperhatikan definisi- definisi di atas, maka tentunya dapat di temukan unsur yang hampir disebut oleh setiap definisi yaitu unsur pesan atau informasi. Di mana peserta yang satu mengutarakan gagasan dengan menggunakan media biasanya berupa suara, cahaya, sentuhan, gelombang, tulisan dan yang lainnya. Kemudian informasi yang telah diciptakan oleh peserta yang pertama dimanfaatkan bersama, dengan kata lain komunikasi dapat kita definisikan sebagai proses saling berbaagi atau pengguna informasi secara bersama dan pertalian antara peserta dalam proses informasi tersebut.
Dengan berpegang pada pemahaman komunikasi di atas maka komunikasi orang tua- anak dapat didefinisikan sebagai suatu proses berbagi atau menggunakan informasi secara bersama antara orang tua – anak dan juga terjadinya pertalian antar orang tua –anak dalam informasi tersebut.

  2. Urgensi Komunikasi Orang Tua -Anak
Sebagaimana telah di sepakati bersama bahwa manusia adalah makhluk sosial yang untuk memeuhi segala kebutuhan mereka memerlukan bantuan orang lain. Manusia hidup dengan komunikasi, tanpa komunikasi atau hubungan dengan orang lain maka manusia tidak akan dapat memenuhi segala kebutuhannya atau dengan kata lain tanpa komunikasi kehidupan manusia berarti apa-apa. Dengan komunikasi manusia dapat menyampaikan ide, gagasan emosi dan perasannya kepada individu yang lain serta dengan komunikasi manusia dapat mengekspesikan dirinya dalam kehidupaan dengan sebaik- baiknya.
Komunikasi telah menembus seluruh peta kehidupan manusia baik dalam bidang politik, agama, sosial, pendidikan, kesehatan, perdagangan termasuk juga dalam keluarga.
Dalam bidang politik, bagaimana mungkin para anggota parlemen dapat menetapkan sebuah kebijakan negara dan menginformasikan pada rakyat tanpa komunikasi. Dalam bidang agama, bagaimana mungkin seorang muballigh, misioner atau pendeta dapat menyampaikan pesan- pesan religi kepada umatnya tanpa melakukan komunikasi dengan umat. Dalam dunia pendidikan tidak akan pernah terjadi proses belajar megajar di sekolah atau di rumah bahka dimasyarakat kalau tidak terdapat komunikasi begitu juga dengan bidang – bidang kehidupan lainnya.
Dalam kehidupan bermasyarakat komunikasi memegang peranan yang sangat penting karena dengan komunikasi akan terciptalah suasana saling mengerti, terpelihara integritas kelompok masyarakat bahkan dengan komunikasi taraf kesadaran masyarakat akan nilai –nilai kehidupan dapat di tumbuh- kukuhkan. Dengan mengamati ini maka Hasan Basri mengatakan paling tidak ada tiaga manfaat komunikasi dalam kehidupan sosial, yaitu:
a. Menjadi media hubungan antara warga masyarakat
b. Menjadi media kebahagian hidup warga
c. Sebagai media untuk memperoleh keselamatan dan kesejahteran
Dalam sebuah keluarga komunikasi juga mempunyai peranan yang tidak sederhana. Hal ini tidak lain karena keluarga adalah merupakan kumpulan manusia yang biasanya paling tidak terdiri dari seorang suami, seorang istri dan anak.
  Bagi sebuah keluarga komunikasi adalah merupakan suatu kebutuhan karena dengan komunikasilah seorang suami dan istri dapat berbagi rasa dan memberikan saling pengertian, sehingga dua individu itu dapat berjalan seiring dan selaras.
 Sedangkan komunikasi bagi anak adalah suatu kebutuhan dalam rangka menciptakan dirinya menjadi manusia yang normal.
 Sebuah kejadian di California yang melibatkan anak bernama Genie (nama samaran) cukup di jadikan sebagai bukti dan pelajaran akan pentingnya komunikasi bagi seorang anak. Genie adalah seorang anak yang hidup pada tahun 1970, ia adalah seorang anak yang berusia 13 tahun yang semenjak kecil hampir tidak pernah di berikan kesempatan untuk berkomunikasi, ia di karantinakan secara khusus oleh ayahnya untuk di jadikan bahan penelitian.
 Setelah 13 tahun proses pengasingan komunikasi tersebut berlangsung, Genie di bawa kabur oleh ibunya dan kemudian ia di masukkan ke rumah sakit ketika itu ia tidak bisa bicara dan memiliki ketrampilan untuk mengungkapkan pikirannya dalma bentuk lambang- lambang yang dapat di fahami oleh orang lain, selain itu perkembangan tubuhnya juga tidak normal tubuhnya kurus, bungkuk dan kotor.
 Dengan memperhatikan hal ini, Jalaluddin Rahmat (1992 : 14) mengatakan adanya dua hal yang menunjukkan pentingnya fungsi komunikasi, yaitu :
a. Komunikasi amat esensial buat pertumbuhan kepribadian manusia
b. Komunikasi amat erat kaitanya dengan perilaku dan kesadaran manusia.
Dalam pandangan yang nilai Hasan Basri (1995:78) memberikan penjelasan tentang fungsi komunikasi dalam sebuah keluarga yaitu:
a. Sarana untuk mengungkapkan perasan kasih sayang
b. Media untuk menyatakan penerimaan atau penolakan atas pendapat yang di sampaikan
c. Sarana untuk menambah keakraban hubungan sesama warga dalam keluarga
d. Menjadi barometer bagi baik buruknya kegiatan komunikasi dalam sebuah keluarga
  Dengan memahami penjelasan dan kenyatan di atas tentunya dapat di pahami akan urgensi komunikasi bagi kehidupan ini, terlebih lagi bagi orang tua – anak.

3. Komunikasi keluarga menurut pandangan Islam
Keluarga adalah buaian tampat anak melihat cahaya pertama. Berawal dari keluarga, seorang anak akan belajar untuk megenal dirinya dan lingkungannya begitu juga dari keluarga anak akan belajar mengenal berbakti kepada Tuhan. Dengan demikian keluarga sangat dominan peranannya dalam membentuk kepribadian anak.
Begitu besarnya pengaruh keluarga dalam membentuk kepribadian anak sehingga dengan demikian perlu kiranya diciptakan kondisi keluarga yang baik Zakiyah Darajat ( 47: 1994 ) menyatakan bahwa jika suasana dalam keluarga itu baik dan menyenangkan maka anak akan tumbuh dengan baik pula.
Diantara langkah yang dapat ditempuh untuk menciptakan suasan yang baik itu adalah usaha menciptakan terwujudnya saling pengertian, saling menerima, saling menghargai dan saling menyanyangi di antara suami istri dan seluruh anggota keluarga dan media yang digunakan untuk mewujudkan ini adalah komunikasi.
Karena komunikasi dalam keluarga ini memegang peranan yang sangat vital maka hal ini tidak boleh di anggap sederhana, seperti yang di isyaratkan oleh Al Quran dalam surat At Taghabun ayat 14 :





“ Hai orang- orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak- anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka ( Q. S At Taqhabun )

Dari ayat ini dapat diambil suatu pemahaman bahwa dalam keluargapun dapat terjadi permusuhan apabila tidak terjalin komunikasi, saling pengertian dan saling memahami.
Pendidikan Islam berarti optimalisasi potensi anak menuju kesempurnaan, yaitu manusia muslim yang beriman dan beramal sholeh sesuia dengaan tuntuan ajaran Islam itu tidak akan tercapai dengan baik tanpa dimulai dengan komunikasi yang baik dari sebuah keluarga.
Al Quran sebagai sumber pokok ajaran Islam telah banyak memberikan pelajaran tentang komunikasi yang baik,berikut ini sebuah contoh komunikasi yang baik yang di tampilkan Al Quran dalam surat Ash Shaffaat ayat 102:
 
“ Maka tatkala anak itu sampai ( pada umur sanggup ) berusaha berama- sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmuia menjawab,”Hai Bapakku, kerjakanlah apa telah diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar “ ( Qs Ash Shaffat 102 ).

Dari ayat ini dapat dilihat betapa komunikasi sangat baik yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim dan Ismail kepada umat Islam. Adapun int ajaran komunikasi yang dapat diambil dari ayat ini adalah sebagai berikut:  
a. Terjadi Komunikasi Dua Arah
Dari ayat tersebut di atas dengan jelas adanya pembagian kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan pesan antara Nab Ibrahim dan Isma’il, sehingga tidak terjadi pemaksaan. Hal ini dapat dilihat dari ungkapan Nabi Ibrahim untuk meminta pedapat anaknya yaitu “ Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu…..” hal ini nampak merupakan suatu kalimat pertanyaan yang ditujukan kepada Nabi Ismail untuk memberikan pendapat atau tanggapan tentang apa yang ditugaskan kepada ayahnya, dalam hal ini Nabi Ibrahim tidak memaksakan kehendaknya kepada anaknya walaupun itu merupakan perintah yang harus dilaksanakan, akan tetapi beliau memita pendapat dari anaknya tentang hal tersebut. Hal ini akan menciptakan suasana yang harmonis dalam keluarga di mana masing- masing fihak saling menghargai dan menghorati pribadi masing-masing, sehingga akan terbina rasa tanggung jawab yang dalam diri setiap individu anggota keluarga.
Manfaat dari komunikasi dua arah seperti contoh diatas mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam sebuah keluarga. Misalnya dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengungkapkan perasan dan idenya, sehingga orang tua dapat mengetahui apa yang dinginkan oleh anak dan orang tua dapat memberikan arahan yang tepat dan sesuai apa yang diharapkan oleh anak. Dan anak akan merasa dirinya ada, karena apa yang ia kemukakan mendapatkan tanggapan atau respon dari orang tuanya, sehingga pada tataran selanjutnya anak akan memiliki rasa percaya dri dan tanggung jawab yang besar dan hal itu merupakan suatu modal yang sangat bermaanfaat bag anak dalam perkembangan sikap dan kepribadiannya. Alex Sobur ( 15: 1997 ) menyatakan bahwa komunikasi dua arah akan menumbuhkan kewibawaan orang tua, karena menurutnya ketika anak mau melakukan apa yang telah disampaikan oleh orang tua tanpa paksan, karena sudah memahami apa yang dikehendaki oranng tua, ia akan menghormati orang tuannya.
b. Penggunaan Media ( verbal ) yang tepat
Dalam ayat tadi diungkapkan pengungkan kata yang sangat indaaah ketika Nabi Ibrahim mengajukan pertanyan kepada anaknya Ismail, ungkapan yaaang digunakan oleh Nabi Ibrahim dapat dimengerti bahkan menyentuh jiwa Ismail sebagai komunikan, sehingga Ismail merasa ikut terlibat dalam proses komunikasi yang sedang berlangsung. Hal ini dapat dilihat dari kalimat pembuka yang digunakan Nabi Ibrahim dengan menggunakan kalimat “ “  
Yaitu suatu ungkapan panggilan yang menunjukan kasih sayang kepada anaknya, sehingga anaknyapun menghormti orang tuanya dengan membalas menggunakan ungkapan yang menunjukkan rasa penghormatan “ “
Inilah sebuah contoh komunikasi antara orang tua dengan anak yang telah divisualkan secara transparan oleh Al Quran yang hendaknya menjadi ta uladan bagi keluarga muslim dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pendidikan Islam, komunikasi orang tua anak selain menggunakan metode dialog seperti di atas juga dapat dilakukan dengan menggunakan metode nasehat yang baik, karena nasehat yang baik menurut Abdullah ‘Ulwan mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam diri anak - cara yang dilahirkan dengan fitrah.

  Cara Motivasi Orang Tua Terhadap Anak
Anak merupakan anugrah dan amanah dari Allah kepada manusia yang menjadi orang tua, oleh karena itu orang tua dan masyarakat bertanggung jawab penuh agar anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang berguna bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa serta agamanya sesuai dengan tujuan dan kehendak Tuhan penciptanya. (Bakir Yusuf Karwani, 1993:5 ).
Sehingga dengan tugas dan tanggung jawab itu maka orang tua merupakan penanggung jawab dalam pendidikan anaknya dalam rumah tangga, sebagai firman Allah dalam surat Az Zukhruf ayat 32 :
   
“Apakah mereka yang membagi – bagi rahmat Tuhanmu ? kamu telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan Rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (Surat Az-Zukhruf ayat 32) 

Hal ini yang harus diketahui orang tua dan dihatinya adalah rasa tanggung jawab yang besar dalam mendidik anak, baik ilmu, perangai, pembentukan jasmai dan sosialnya. Rasa tanggung jawab ini selamanya akan mendorong secara keseluruhan dalam rangka mengawasi anak dan memberikan, mengerakkan dan mengikutinya, membiasakannya dan melatihnya. Oleh karena itu, Islam meletakka masalah tanggung jawab pendidikan diatas orang tua dalam Al Quran dinyatakan tanggung jawab dalam S. Toha, 132.
 
“janganlah kamu mempersatukan sesuatu dengan dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka”(Surat Al-An’am 151).
 
Sehubungan deangan tugas dan tanggung jawab itu maka ada baiknya orang tua mengetahui sedikit mengenai bagaiman pendidikan dalam rumah tangga. Pengetahuan itu sekurang-kurangnya menjadi panutan, rambu- rambu bagi orang tua dalam menjalankan tugasnya. Yang bertindak sebagai pendidik dalam pendidikan rumah tangga ayah dan ibu, sedangkan yang menjadi anak didik dalam rumah tangga: Sianak ( A. Tafsir 1991:155 ).
Oleh karena itu anak harus mendapat asuhan bimbingan dan pendidikan yang baik dan luas agar menjadi remaja dan manusia. Dengan demikian anak sebagai penerus generasi dan cita – cita orang tua, karena pendidikan anak dalam keluarga adalah bersifat kodrati, maka hal ini harus terus mengembangkan kualitas dirinya, maka hal ini tidaklah mungkin memperoleh seluruh pendidikan dan bimbingan yang diperlukannya dari anggota keluarganya. Oleh karena itu anak anak membutuhkan ligkungan pendidikan yang lain seperti di sekolah atau lembaga-lembaga agama. Dalam hal ini pendidikan keluarga harus tetap menjadi dasar yang melandasinya. (A.Bakir Yusuf B 1993: 8).
Karena pendidikan anak dalam keluarga bersifat kodrati, maka hal ini harus menjadi fondamen bagi pendidikan yaang diterima diluar keluarga. Karena anak harus tetap mengembangkan kualitas dirinya maka hal ini tidaklah mungkin meperoleh seluruh pendidikan dan bimbingan yang diperlukan dari anggota keluarga.
Pendidikan anak pada dasarnya tanggung jawab orang tua. Hanya karena keterbatasan orang tua maka perlu adanya bantuan dari orang yang mampu atau mau membantu orang tua dalam pendidikan anak- anaknya terutama dalam mengajarkan berbagai ilmu dan ketrampilan yang selalu berkembang dan selalu dituntut mengembangkannya bagi kepentingan manusia, (Zakiyah Darajat. 1994: 53). Jika dihubungkan dengan kegiatan pendidikan, peranan pendidikan dapat diartikan sebagai suasan psikis yang terdapat dalam diri orang tua dan anak mendorong serta menyertai aktivitas mereka, baik selaku obyek atau subyek pendidikan. Jika dihubungkan dengan pengertian peranan sebagai faktor yang menyebabkan seseorang memulai dan melaksanakan aktivitas dengan semangat dan penuh ketentuan seperti Firman Allah dalm surat Al Zalzalah 7-8
 
“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya perlu”. (QS. Al-Zalzalah 7-8)

Dari ayat diatas, secara teoritis akan menjadi pendorong yang kuat bagi pihak orang tua sebagai pendidik, anak sebagai terdidik giat melaksanakan kewajiban dan tugas masing- masing. Setiap pekerjaan yng baika waaupun sebesar butir debu ibaratnya, Allah menyediakan pahala kebaikan pula bagi pelakunya, demikian juga sebaliknya. Dalam kontek pembicaran ini, ayat tersebut bisa dipandang sebagai motivasi, tegasnya sumber motivasi untuk melakukan kebaikan dalam kancah pendidikan. Bagi orang tua sebagai pendidik, kebaikan itu mestilah dilakukan dengan cara melaksanakan tugas pendidikan sebaik-baiknya. ( Imam Bawami, 1986: 125 ).
Dengan adanya tugas dan tangung jawab orang tua tersebut perlu memberikan bantuan jika anak memang perlu dibantu, untuk menjaga agar anak berhasil baik yang akan dapat membuatnya selalu optimis dalam menghadapi kehidupan. Misalnya membantu anak dalam mengerjakan pekerjan rumah yang biasanya merupakan tugas dari sekolah, salah satu membantu pendidikan anak-anak. Memenuhi peralatan sekolah anak jelas merupakan cara mendidik anak dirumah, yang penting adalah mendisiplinkan anak agar selalu mengejakan PR dengan sungguh-sungguh. Pujilahlah mereka tatkal berpertasi tinggi,sabarkan tatkala gagal mencapai prestasi yang layak (Ahmad Tafsir, 1991: 156 ).  

B. Pembahasan Tentang Kematangan Pribadi Anak
Dalam lingkup pendidikan, baik pendidikan formal, informal maupun non formal kematangan pribadi merupakan salah satu unsur atau faktor yang sangat penting dan harus di kembangkan, sesuai dengan tujuan dan arah pendidikan pada umumnya yaitu arah kedewasaan.
Kedewasaan yang dimaksud disini adalah kedewasaan dalam arti luas, yaitu kedewasaan jasmani, kedewasaan dalam berfikir, maupun kedewasaan dalam bertingkah laku. Manusia yang dewasa kiranya bukan manusia yang suka menggantungkan diri pada orang lain atau merepotkan orang lain, bahkan manusia yang dewasa sudah pasti akan berbuat dan bertingkah laku yang menguntungkan terhadap orang lain disekitarnya.
Kedewasaan manusia atau individu dapat kita lihat dari kepribadian yang mantap dan matang. Sedangkan kepribadian yang matang bisa diperoleh dari pengalaman- pengalaman, lingkungan sekitar dan hasil belajar atau pendidikan. Sebagai mana yang dikatakan oleh G. Ewald yang menyebutkan kepribadian sebagai watak (caracter) sebagai berikut : “ Watak yang diperoleh (erworbener character, watak phainotopis) yakni watak yang telah dipengaruhi oleh lingkungan, pengalaman dan pendidikan.” ( Sumadi Suryabrata, 1982 : 89 ).

1. Pengertian Kematangan Pribadi 
Kepribadian atau personality berasal dari bahasa yunani yaitu persona yang berarti topeng, yang biassa dipakai dalam bermain drama pada masa lalu. Oleh C.G. Jung ( 1986 ) perkataan persona dilukiskan sebagai muka manusia dalam keberadaannya dalam masyarakat.
Dikatakan oleh Masrun ( dalam Adisubrata, 1987 ) bahwa persona merupakan alat kompromi antara individu dengan masyarakat, antara kebutuhan dasar individu dengan norma- normma masyarakat. Persona merupakan alat untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan dunia sekitar, tetapi dengan persona sering juga individu menyembunyikan sifat aslinya. Jadi kepribadian merupakan alat untuk berkomunikasi dengan dunia sekitar, sebagian berbentuk secara sadar tetapi sebagian terbentuk melalui proses yag disadari.
Adapun Allport ( dalam Adisbrata, 1987) memberikan definisi kepribadian sebagai organisasi dinamis dalam individu sebagai sistem psikofisis yang menentukan cranya yang khas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. 
Organisasi yang dinamis adalah kepribadian sebagai organisasi mental dalam individu yang bersifat motivasional dan mengaturdiri. Kepribaian sebagai organsasi dalam individu sering kali megalami proses disorganisasi, misalnya pada individu- individu yang telah normal.
Dengan mengadakan penyesuaian diri terhadap lingkungan Alport (dalam Suryabrata, 1987) menunjukkan keyakinan bahwa kepribadian mengantar individu dengan lingkungan psikologisnya, kadang- kadang menguasainya. Jadi kepribadian adalah sesuatu yang mempunyai fungsi atau arti adaptasi yang menentukan.
Lebih lanjut Murry (dalam Adisubrata, 1987) berpendapat bahwa kepribadian merupakan suatu rangkaian dari suatu kejadian- kejadian yang secara ideal menentang dalam kehidupan seseorang.
Sedangkan Kinget ( 1970 ) menyatakan bahwa emosi (kepibadian) seseorang terbagi menjadi dua, yaitu out going dan seclusive. Dimana out going hampir sama artinya dengan Ekstrovert sedangkan seclusive hampir sam dengan introvert.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kepribadian merupakan organisasi atau pola yang diberikan kepada berbagai respon yang lepas dari individu dan merupaka kekuatan aktif dalam diri idividu, juga mencakup usaha- usaha menyesuiakan diri beraneka ragam, namun khas yang dilakukan atau dimiliki idividu, disamping itu juga kepribadian merupakan suatu istilah untuk menunjukan hal- hal khusus tentang individu dan membedakannya dari semua orang. Dalam hal ini kepribadian dapat berkaitan erat antara iindividu dengan lingkungan sosial, serta antara individu dengan peristiwa- peristiwa yang pernah dialaminya dalam hidup.

2. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kematangan Pribadi 
Salah atau faktor yang mempengaruhi kepribadian adalah hasil hubungan antara manusia dengan lingkungan atau pengalaman. Dalam hal ini para ahli psikologi membedakan dua macam faktor yang mempengaruhi kepribadian manusia, yaitu:
a. Pengalaman umum (common esperience), adalah pengalaman yang dihayati oleh individu, dimanadalam setiap masyarakat atau individu prinsip- prinsip moral maupun cara- cara hidup yaaang dihayaaati oleh semua anggato masyarakat tersebut, pengalaman umum ini menjadi bagian daaari seseorang dengan orang lain disekitarnya.
b. Pengalaman unik (Unic Experience), adalah pengalaman yang hanya dialami oleh dirinya sendiri, karena sejak lahir manusia sudah mempunyai ciri- ciri tertentu maka reaksssinya terhaaadap lingkungan ataaau reaksi lingkungan terhadap individu tersebut bersifat khas. Pengalaman unik ini menentukan bagian dari dirinya yang bersifat khas dan tidak dialami oleh orang lain. ( Irrrwanto dkk, 1989 ) 
Ngalim Purwanto dalam bukunya psikologi pendidikan menyatakan bahwa faktor–faktor yang mempengaruhi perkembangan dan kepribadian dapat dibagi menjadi 3 macam :
a. Faktor biologis
b. Faktor sosial 
c. faktor kebudayan 
a). Faktor biologis, yaitu faktor yang berhubungan dengan keadaan jasmani, atau seringpula disebut faktor fisiologis.kita mengetahui baahwa keadaan jasmani setiaaap orang sejak dailahirkan telah menunjukkan adanya perbedaan- perbedaan. Keadaan fisik/ kondisi tubuh yang berlebihan itu menyebabkan sikap, sifat- sifat serta kepribadian yang berbeda-beda pula.
b). Faktor sosial, yaitu dimaksud dengan faktor sosial disini adalah masyarakat, yakni manusia- manusia lain disekitar individu yang bersangkutan, termasuk kedalam faktor sosial ini adalah tradisi, adat istiadat, peraturan, bahasa dan laain sebagainya yang berlaku dimasyarakat. Sejak dilahirkan anak telah mulai bergaul dengan orang lain disekitarnya. Pertama–tama dengan keluarganya, terutama ibu dan ayah, kemudian dengan anggota keluarga lain, seperti kakak, adik dan pembantu rumah tangga.
c). Faktor kebudayaan, perkembangan dan pembentukan kepribadian pada diri masing- masing anak/orang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan masyarakat dimana anak itu dibesarkan. Seorang anak Indonesia misalnya, jika sejak kecil dibawa ke London dan dibesarkan serta dpelihara oleh orang- orang Inggris dengan kebudayaan Inggris, jangan diharap kepribadian anak tersebut akan sama atau mirip dengan kepribadian orang-orang Indonesia. Beberapa aspek kebudayaan yang sangat mempengaruhi perkembangan dan pembentukan kepribadian antara lain: nilai-nilai/ values, adat dan tradisi pengetahuan, dan ketrampilan bahasa dan milik kebendaan. (Ngalim Purwato 1990, 166)

Hasan Mazhahiri dalam bukunya menyatakan bahwa faktor – faktor yang membentuk kepribadian anak yaitu : 
a. Peranan Cinta Kasih dalam Pembinaan Kepribadian
Seorang ibu hendaknya berusaha keras mengasuh dan memberi kepuasan cinta kasih pada anaknya, misalnya dengan sering mengelus kepalanya sebagai ungkapan rasa cinta. Para ayah juga harus memperhatikan kebutuhan cinta kasih anak-anaknya, mendudukkan mereka dipangkuannya atau disebelahnya sebagai tanda kasih terhadap mereka.
Cinta kasih inilah sebenarnya mampu membina kepriadian anak. Anak yang tumbuh besar karena disusui orang lain atau karena disusui orang lain atau karena susu buatan, atau dititipkan pada panti asuhan atau lembaga penampungan anak, akan tumbuh besar tanpa memeliki kepribadian yang matang. Sebab, orang yang dibesarkan tanpa pengawasan kedua orang tua atau tidak pernah merasakan cinta kasih dan susu seorang ibu sama sekali, sejak semula kepribadiannya telah hancur dan selanjutnya dia lebih hancur dan selanjutnya dia lebih suka pada tindakan kejahatan dibanding orang lain.
 
b. Tidak menghina dan tidak mengurangi hak anak
Orang tua hendaknya berhati-hati jangan sampai menghina anak-anaknya karena penghinaan adalah suatu tindakan yang tidak boleh dilakukan dalam pendidikan. Penghinaan dan celaan adalah tindakan yang dilarang, sekalipun terhadap bocah kecil yang belum berumur satu bulan. Memberi anak sekalipun ia masih sangat kecil, berarti penghinaan dan celaan terhadpap kepribadiannya sesuai kepekaan jiwanya.
Penghinaan orang tua terhadap mereka telah memberi dampak negatif pada pribadi mereka. Dampak negatif ini tumbuh dan berkembang hingga menghancurkan kepribadian dan mengubah manusia menjadi ahli maksiat dan penjahat yang tidak lagi peduli dengan perbuatan dosa dan haram. Para ayah dan ibu hendaknya berhati-hati, jangan sekali-kali membanding-bandingkan atau mengutamakan saudara laki-laki atas saudara perempuan atau sebaliknya, apapun kelebihan atau kekurangan yang ada pada mereka. Cara demikian bersumber dari kebodohan dan ketidaktahuan akan prinsip - prinsip pendidikan yang hanya akan meniggalkan pengaruh negatif yang akan menghancurkan kepribadian anak. Pengaruh pengaruh tersebut tanpa kita sadari akan berkembang menjadi besar seiring dengan perkembangan tubuhnya.
Orang tua hendaknya bertingkah laku dan bersikap adil terhadap anak-anaknya. Mereka juga dituntut untuk memberikan conoth kepribadian contoh kepribadian yang baik kepada anak-anaknya melalui sikap dan perangainya.

c. Perhatian Pada Perkembangan Kepribadian
Jika seorang ayah dan ibu ingin menyumbang kepada masyarakat seorang anak yang sehat dan berkepribadian matang, maka mereka harus memperhatikan pertumbuhan kepribadian anaknya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda anak adalah sebagai tuan selama tujuh tahun (pertama), sebagai pembantu selama tahun (ketiga).. jika kami masih mampu lepaskanlah dia, maka selesailah tanggung jawab dihadapan Allah.
Pada tujuh tahun pertama hendaknya orang tua membantu perkembangan kepribadian anaknya dengan memberikan kasih sayang dan cinta. Hal ini akan terealisasi jika dirumah terbentuk suasana penuh kasih dan cinta serta bahasa yang ramah. Bukan seperti yang dilakukan sebagian orang tua yang menyuruh dan melaranganaknya dengan perkataan menyakitkan dan melukai pribadi anak, sebagai contoh, seorang ayah dapat menanyakan pendapat anaknya tentang pelaksanaan pekerjaan tersebut tanpa harus dipaksa atau diperintah.
Tujuan itu sah, sedangkan cara-caranya bisa berbeda, adapun hasil yang diraih adalah terbentuknya bangunan pribadi yang baik.
Ada sebagian keluarga dimana para ayah dan ibu selalu menggunakan kata kotor ketika berbicara dengan anak –anak mereka. Padahal pada setiap tempat, terjaganya lingkungan masyarakat akan tergantung pada istilah-istilah dan ungkapan bahasa yang digunakan oleh ayah dan ibu kepada putra – putrinya. Misalnya seorang ibu mendo’akan yang jelek kepada putrinya dan berharap agar anaknya tidak berhasil serta merendahkan pribadi putrinya dengan membandingkan secara negatif dengan wanita – wanita lain. Sikap ini secara tidak langsung menjadikan masa depan putrinya lemah sehingga tidak dapat melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri yang baik. Hal ini tidak berarti orang tua harus meninggalkan tanggung jawabnya untuk memberi pengarahan kepada anak-anaknya, akan tetapi pengarahan dan perintah tersebut harus berbentuk msuyawarah dengan bahasa yang halus serta tidak menggunakan bentakan dan reaksi. Cara demikian merupakan kebiasaan yang dilakukan Rasulullah SAW, dan para imam dalam al-Qur’an Allah berfirman surat Ali Imran 159. 
 
Dan ajaklah mereka bermusyawarah dalam urusan itu, kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad maka bertawakallah kepada Allah” (QS. Ali Imron : 159)

Dari ayat – ayat tersebut menunjukkan penghormatan Rosulullah SAW, terhadap sahabat-sahabatnya dengan msuyawarah, dimana musyawarah tersebut dapat mendorong perkembangan dan pembinaan kepribadian mereka. Sementara perintah terakhir hanya diarahkan kepada Rasulullah SAW saja, jika kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah.
Para orang tua dapat mengambil manfaat dari kandungan ayat ini dalam membina dan membidik anak – anak mereka berdasarkan prinsip – prinsip kepribadian yang taat dan sempurna (Husain Mazhahiri, 1999, 201)  


6. Ciri-Ciri Kematangan Pribadi
Dalam bahasan di atas telah disinggung bahwa kepribadian akan mengalami perubahan, perubahan tersebut karena adanya pengaruh dari luar diri individu yang bersangkutan. Berupa pengalaman, masyarakat sekitar maupun pengaruh dari pendidikan, perubahan yaang dimaksud dan diharapkan disini adalah perubahan kepribadian menuju kearah kesempurnaan atau paling tidak mendekati kesempurnaan atau dengan istilah lain kematangan pribadi.
Adapun ciri-ciri kematangan pribadi menurut beberapa ahli antara lain :
a. Menurut I. H. Maslow  
- Pada kematangan pribadi itu ada aktualisasi diri sendiri, memiliki kemampuan efisiensi daalam menerima realitas, mempunyai relasi yang baik dengan lingkungannya dan tidak takut pada hal-hal yang belum dialami  
- Menerima diri sendirri, orang lain dan alam dunia tanpa rasa kebencian atau rasa malu 
- Memiliki spontanitas dalam mengadakan apresiasi kebudayaan dapat mempergunakan waktu dengan baik dan mempunyai daya hidup yang positif.
- Dapat memusatkan perhatian dan usahanya dalam memechka berbagai problem dengan caaara efektif dan ulet dalam melaksanakan tugasnya.
- Berdiri sendiri dalaam usaha aktuliasasi dirinya.
- Memiliki kebebasan terhadap lingkungan dan kebudayan. Sanggup mengejar atau melepas cita-cita yag telah didambakannya.
- Mempunyai keseragaman apresiasi yang kontinyu.
- Memiliki cakrawala yang tidak terbatas, sehingga mau menerima realita dunia yang luas ini, serta memiliki kepercayaan spiritual dan kepercayaan keagaman yang masak.
- Memiliki rasa sosial yang dalam, kesanggupan identifikasi, memiliki afeksi dan simpati serta menaruh belas kasihan terhadaap sesama makhluk didunia ini.
- Memiliki relasi sosial yang selektif.
- Memiliki struktur karakter yang demokratis, bisa menghargai manusia diluar dirinya.
- Mempunyai kepastian etis.
- Punya kesadaraaan humor dan tidak mempunyai sikap permusuhan dan kesanggupan untuk bersendagurau dalam batas-batas tertentu.
- Kreatif ( kartini kartono, 1974, 107 ).

b. Pendapat Erikson
Pribadi yang sehat dan matang adalah seseorang yang memiliki organisasi usaha yang efektif, guna mencapai tujuan ia dapat menerima secara tepat realtas dunia, ia memiliki integritas karakter dalam pengertian ethis, serius punya tanggung jawab, toleran dan berdiri sendiri, memiliki hubungan internasional dan intra personal yang baik tidak terlalu egoistis, kurang atau tidak mencurigai orang lain dan bisa mempertahankan diri. (kartino kartono, 1974, 106).

C. Pengaruh Intensitas Komunikasi Orang Tua-Anak terhadap kematangan Pribadi anak
Salah satu yang sangat penting dalam kehidupan manusia yang harus mendapat perhatian serius adalah keluarga, anak-anak dalam keluarga adalah buah hati, permata keluarga, anak-anak dalam keluarga adalah amanah Allah yang perlu dipelihara sebaik-baiknya. Demikian beberapa ungkapan masyarakat tersebar luas dalam mendudukkan anak pada tempat yang cukup mulia dan berharga, sebagaimana firman Allah dalam surat An Nisa’ ayat 9 yang berbunyi :
 
”Dan hendaklah takut kepada Allah, orang- orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak- anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. (Depag, 1983 : 166).

Keluarga adalah salah satu elemen pokok pembangunan entitas-entitas pendidikan, menciptakan proses-proses naturalisasi sosial, membentuk kepribadian-kepribadian serta memberi kebiasaan baik pada anak-anak yang akan bertahan selamanya. Dengan kata lain keluarga merupakan tempat belajar awal penyusunan kematangan individu dan struktur kepribadian, melalui keluarga anak mendapatkan nilai-nilai kaidah etika dan moralitas (Al Qoroshi Bagir Sorif , 2003 : 46).
Tanggung jawab orang tua yang besar untuk berkomunikasi dan melatih anak-anak mereka adalah cukup penting untuk disadari karena tanpa komunikasi orang tua anak tidak dapat berkembang dengan baik dan akan mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar terutama dengan perkembangan teknologi yang semakin maju sehingga informasi tak dapat di bendung lagi. Informasi yang disajikan di televisi sangat berpengaruh terhadap kematangan pribadi anak, karena acara yang disajikan tidak memperhitungkan dampak negatif yang akan diperoleh bagi anak, oleh karena itu komunikasi dan arahan orang tua sangat diperlukan.
Para psikolog dan pakar pendidikan menegaskan bahwa keluarga memainkan peran terbesar dalam proses pendidikan dan kematangan pribadi. Tak diragukan lagi keluarga (orang tua) memiliki dampak yang sangat besar dalam pembentukan perilaku individu melalui pendidikan.
Dari keterangan-keterangan tersebut peneliti dapat menyimpulkan bahwa kematangan pribadi dapat berkembang dengan baik karena adanya peran orang tua dalam berkomunikasi dan arahan dari orang tuanya, karena dengan komunikasi dan arahan dari orang tua anak akan dapat memilah-milah mana yang baik dan mana yang buruk.





















RANCANGAN DAFTAR ISI

Halaman Judul
Nota Pembimbing
Halaman Pengesahan
Halaman Motto
Halaman Persembahan
Kata Pengantar
Abstraksi
Daftar Isi
Daftar Tabel
BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Hipotesis Penelitian
E. Kegunaan Penelitian
F. Batasan Operasional
G. Sistematika Pembahasan
BAB II Kajian Pustaka
A. Pembahasan Komunikasi Orang Tua - Anak.
1. Pengertian Komunikasi orang tua – anak 
2. urgensi komunikasi orang tua –anak
3. komunikasi keluargaaa menurut pandag islam
B. Pembahasan tentang Kematangan pribadi Anak.
1. Pengertian Kepribadian 
2. Faktor-faktor yang mempengaruhui kepribadian 
3. Struktur kepribadian
4. Dinamika kepribadian
5. Perkembangan kepribadian 
6. Ciri- ciri kematangan pribadi 
C. Pengaruh Komunikasi Orang Tua-Anak terhadap Kematangan pribadi Anak. 
BAB III Metodologi Penelitian
A. Rancangan Penelitian
B. Populasi dan Sampel
C. Instrumen Penelitian 
D. Tehnik Pengumpulan Data
E. Tehnik Analisa Data
BAB IV Hasil Penelitian
A. Deskripsi Data
B. Pengujian Hipotesis
C. Pembahasan
BAB V Penutup
A. Kesimpulan 
B. Saran-saran
Daftar Pustaka
Lampiran-lampiran










Angket Penelitian Komunikasi Orang Tua dan Anak 
Pengantar
Angket ini terdapat beberapa pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur dan angket ini tidak mempengaruhi nilai dan jawaban yang anda berikan merupakan nilai yang tidak terhingga demi kelancaran tugas penelitian ini.
 
A. Petunjuk Pengisian
1. Berilah tanda silang (X) pada jawaban yang anda anggap paling sesuai dengan kenyatan yang ada.
2. Tulislah identitas anda pada kolom dibawah ini :
Nama :
Kelas :
Alamat :

1. Jika ada masalah dirumah apakah anda diam saja?
a. Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak pernah
2. Apakah orang tua anda selalu mengajari untuk berkata baik dan jujur?
a.Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak pernah
3. Dalam setiap kesalahan yang dibuat oleh salah satu keluarga anda apakah anda selalu mengingatkan?
a.Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak pernah
4. Ketika ada suatu persoalan apakah orang tua anda meminta pendapat atau berdiskusi dengan anak?
a. Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak pernah
5. Apakah orang tua anda selalu mengajak untuk sholat berjama’ah?
a.Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak pernah
6. Ketika anda berbuat salah apakah orang tua anda membiarkan saja?
a. Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak pernah
7. Apakah anda akan membaca Al qur’an setelah sholat maghrib tanpa disuruh orang tua?
a.Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak pernah
8. Apakah anda selalu melakukan komunikasi pada orang tua anda?
a. Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak pernah
9. Jika salah satu keluarga anda berbuat salah apakah anda akan meniru perbuatan tersebut?
a.Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak pernah
10. Apakah anda akan melakukan perbuatan kebajikan dalam lingkungan keluarga saja?
a. Selalu b. Sering c. Kadang-kadang d. Tidak pernah




DAFTAR PUSTAKA


Jalaludin Rakhmat. 1992. Psikologi komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Paul Henry Mussen, John Janeway Conger. dkk. 1984. Perkembangan dan kepribadian anak. Erlangga.
Onong Uchjona Effendi. 2001. Ilmu komunikasi teori dan praktek. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Rita L. Atkinson, Richard C Atkinson, dkk. 1987. pengantar psikologi. Interaksara
Joseph Garcia, 1999. Seni komunikasi dengan bayi, Yogyakarta: Platinum Diglossia media group.
Maimunah Hasan. 2002. Membentuk pribadi muslim.Yogyakarta: pustaka nabawi.
Sasa Djuarsa Sendjaja, dkk. 1993. Pengantar komunikasi. Jakarta: Universitas terbuka.
Suharsimi Arikanto. 2002. Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek. Jakarta: PT Rineka
Abuddin Nata. 1999. Akhlak tasawuf , Jakarta. PT Grafindo persada.












Angket Keberhasilan Pembentukan Kepribadian Anak
1. Apakah dalam bergaul dengan teman, orang tua anda memberi kebebasan?
1. Selalu b. sering c. kadang- kadang d. tidak pernah
2. Jika anda menghormati orang yang lebih tua,apakah anda akan berbicara sopan?
3. Selalu b. sering c. kadang- kadang d. tidak pernah
4. Apakah ada teman yang mengalami kesulitan dalam pelajaran apakah anda diam saja?
1. Selalu b. sering c. kadang- kadang d. tidak pernah
2. Apakah anda menghormati orang tua dan saudara serta orang yang tua dari anda?
3. Selalu b. sering c. kadang- kadang d. tidak pernah
4. Jika kakak atau keluarga anda suka belanja berlebihan apakah anda akan mencontohnya?
5. Selalu b. sering c. kadang-kadang d. tidak pernah
6. Apabila ada teman membutuhkan uang, apakah anda mau menolong ssuai dengan kemampuan anda?
7. Selalu b. sering c. kadang- kadang d. tidak pernah 
8. Jika di sekolah sedang sholat berjama’ah apakah anda menunggu perinth dari guru untuk melakukannya?
9. Selalu b. sering c. kadang- kadang d. tidak pernah
10. Apakah anda perduli terhadap lingkungan sekitar anda?
11. Selalu b. sering c. kadang- kadang d. tidak pernah
12. Apakah anda sholat sehari lima waktu?
13. Selalu b. sering c. kadang-kadang d. tidak pernah 

PUASKAH ANDA DAPATKAN DATA KAMI?

GAMBAR

GAMBAR
AKU LG SEDIH